KALIMANTAN BARAT — Tekanan pada harga BBM dunia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh fluktuasi harga minyak mentah. Kini, masalah yang lebih mendasar tengah menggerogoti pasokan: mesin-mesin pengolahan minyak di seluruh dunia telah beroperasi di ambang batas maksimum, namun tetap tak mampu mengejar permintaan.
Dua raksasa energi global, Exxon Mobil dan Chevron, mengonfirmasi situasi ini. Mereka menyebut industri berada dalam kondisi paling kritis yang pernah tercatat, dengan ruang gerak untuk menambah produksi praktis sudah tertutup.
Chief Executive Officer Exxon Mobil, Darren Woods, mengungkapkan bahwa hampir seluruh kilang di dunia saat ini beroperasi mendekati kapasitas penuh. Ia menegaskan, ruang untuk meningkatkan produksi bahan bakar menjadi sangat terbatas dan industri membutuhkan waktu lama untuk keluar dari jerat krisis ini.
"Dengan banyaknya pasokan yang hilang dari pasar, kapasitas kilang yang tersedia saat ini berada jauh di bawah tingkat yang pernah saya lihat sebelumnya. Industri membutuhkan waktu untuk keluar dari kondisi ini," kata Woods, dikutip dari Politico, Minggu (2/8/2026).
Senada dengan Exxon, Chevron mengoperasikan kilangnya pada rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan. Tingkat utilisasi mencapai lebih dari 97 persen, angka yang nyaris tanpa celah untuk efisiensi tambahan.
CEO Chevron, Mike Wirth, memperkirakan tekanan pasokan ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Ia menyebut harga produk bahan bakar masih berpotensi menghadapi kenaikan hingga kuartal III 2026 atau bahkan lebih lama.
Krisis ini bukan datang tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor geopolitik yang saling tumpuk dalam beberapa bulan terakhir. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pukulan telak, melumpuhkan sekitar 3 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak dunia.
Di sisi lain, pembatasan ekspor produk minyak oleh China dan Rusia, ditambah serangan terhadap fasilitas kilang Rusia akibat konflik dengan Ukraina, memperparah keadaan. Total, sedikitnya 5 juta barel per hari kapasitas pengolahan global lainnya ikut berhenti beroperasi.
Jika dijumlahkan, sekitar 8 juta barel per hari kapasitas penyulingan hilang dari pasar. Angka tersebut setara dengan kebutuhan konsumsi bahan bakar beberapa negara besar di Asia, dan menjelaskan mengapa harga BBM enggan turun meski harga minyak mentah melemah.
Woods mengakui bahwa tingginya harga energi saat ini telah memberikan dampak besar terhadap daya beli masyarakat. Exxon Mobil berkomitmen untuk terus mengoptimalkan produksi yang ada, namun ia juga mengingatkan bahwa pemulihan pasokan tidak bisa instan.
Untuk Indonesia, situasi ini menjadi sinyal waspada. Meski harga minyak mentah dunia berpotensi turun, biaya impor BBM dan LPG yang harus ditanggung negara bisa tetap tinggi karena harga produk jadi (bensin dan solar) yang melonjak di pasar internasional. Artinya, beban subsidi energi di APBN berisiko tetap besar, dan harga jual BBM di dalam negeri pun sulit untuk segera diturunkan.
Dengan kapasitas kilang yang terus tertekan dan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, para pelaku industri menilai harga energi yang tinggi bukan lagi fenomena sementara, melainkan sebuah realitas baru yang harus dihadapi konsumen global hingga akhir tahun ini.