PONTIANAK — Cuaca buruk disebut sebagai pemicu awal pemadaman listrik massal atau blackout yang melumpuhkan sebagian sistem kelistrikan Sumatera pada Jumat (22/5) malam. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, gangguan pada ruas transmisi kemudian meluas dan menyebabkan penurunan frekuensi akibat beban berat pada pembangkit.
"Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah," ujar Darmawan dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Sabtu.
Tim teknis PLN bergerak segera setelah gangguan terjadi. Jaringan transmisi yang terganggu berhasil dipulihkan dalam waktu sekitar dua jam. Fokus selanjutnya adalah mengoperasikan kembali pembangkit-pembangkit yang terdampak dan menyelaraskannya dengan sistem transmisi yang telah pulih.
Proses penyalaan pembangkit dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan mengutamakan keamanan sistem. Pembangkit berbasis hidro dan gas menjadi andalan untuk respons cepat karena dapat langsung menyuplai sistem. Sementara itu, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama.
"Pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama, antara 15 hingga 20 jam mulai dari start-up, sinkron dan beroperasi penuh," kata Darmawan.
PLN menerjunkan ratusan personel yang bekerja 24 jam untuk mempercepat pemulihan. Pemulihan dilakukan secara simultan di tiga titik kritis: transmisi, gardu induk, dan pembangkit. Wilayah terdampak meliputi Jambi, Sumatra Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Berikut fakta singkat terkait pemadaman listrik massal di Sumatera:
Hingga berita ini diturunkan, PLN terus memantau kondisi sistem kelistrikan Sumatera dan memastikan pasokan listrik kembali normal secara bertahap. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap informasi cuaca terkini dari BMKG.