SMAN 1 Pontianak Protes Nilai Minus 5 di LCC 4 Pilar MPR RI, Jawaban Sama dengan Peserta Lain Dapat 10

Penulis: Ramli Siregar  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 15:10:56 WIB
Siswa SMAN 1 Pontianak protes nilai minus dalam LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar.

PONTIANAK — Viral di media sosial, protes keras dilayangkan SMA Negeri 1 Pontianak terhadap keputusan dewan juri dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. Permasalahan bermula ketika siswa SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang hampir identik untuk pertanyaan yang sama, namun mendapatkan nilai yang berbeda drastis.

Jawaban Serupa, Nilai Beda: Minus 5 vs 10

Insiden ini terjadi saat sesi pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Siswa dari grup C SMAN 1 Pontianak menjawab: "Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden."

Alih-alih mendapat poin, dewan juri yang diketuai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Dyastasita Widya Budi memberikan nilai minus 5. Pertanyaan yang sama kemudian dilempar ke grup lain. Grup B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang nyaris serupa.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden," ucap siswa SMAN 1 Sambas. Kali ini, Dyastasita memberikan nilai 10. "Inti jawabannya sudah benar, nilai 10," ujarnya.

Protes Langsung Peserta dan Respons Juri yang Disorot

Melihat kejanggalan itu, tim SMAN 1 Pontianak langsung memprotes. "Dewan juri, izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B," jelas salah satu siswa. Mereka bahkan meminta pertimbangan dari penonton di studio untuk membuktikan bahwa timnya sudah menyebut DPD dalam jawabannya.

Namun, respons dewan juri dan pembawa acara (MC) justru menjadi sorotan warganet. Dyastasita menyatakan, "Keputusan saya kira di dewan juri, ya." MC lomba menambahkan, "Baik adik-adik, keputusan di dewan juri karena dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti... Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja."

Juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi Indri Wahyuni, beralasan bahwa artikulasi peserta menjadi penilaian. "Biasakan menjawab dengan artikulasi yang jelas, kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak karena mendengar artikulasi yang tidak jelas, ya itu artinya dewan juri berhak memberi nilai minus 5," paparnya.

Warganet Geruduk Akun MPR RI, Tuntut Objektivitas Juri

Video kontroversi ini menyebar luas di media sosial. Akun Instagram resmi MPR RI pun dibanjiri lebih dari 1.600 komentar dari warganet yang mempertanyakan objektivitas dewan juri. Banyak yang menyoroti bahwa dalam tayangan ulang, jawaban SMAN 1 Pontianak terdengar jelas menyebut unsur DPD.

"Keputusan juri yang bilang unsur DPD nggak disebutkan bikin heran karena di tayangan ulang, bagian itu jelas terdengar. Terus soal alasan artikulasi, jangan sampai terkesan pembenaran ketika keputusan diprotes," tulis akun @tan*_.

Dalam tuntutan klarifikasinya, SMAN 1 Pontianak menyoroti "kurangnya fokus dewan juri dalam beberapa momen penilaian, yang berpotensi mempengaruhi objektivitas hasil." Hingga berita ini diturunkan, pihak juri, MC, maupun penyelenggara dari MPR RI belum memberikan tanggapan resmi atas kontroversi ini.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: aktual.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top