KUBU RAYA — Bupati Kubu Raya Sujiwo menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan Fun Run for Charity atau Waisak Run yang dipusatkan di Vihara Vajra Bumi Kertayuga. Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan apresiasi tinggi kepada pihak penyelenggara yang telah menginisiasi gerakan olahraga berbasis kepedulian sosial di tengah perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE.
Menurut Sujiwo, inisiatif yang dilakukan oleh Ketua Vihara Vajra Bumi Kertayuga beserta jajaran panitia memiliki dampak ganda bagi masyarakat. Selain mengajak warga untuk hidup sehat melalui olahraga lari, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat hubungan antaretnis dan agama di wilayah Kabupaten Kubu Raya.
Waisak Run tahun ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi fisik, melainkan juga mengusung misi kemanusiaan melalui penggalangan dana. Sujiwo menilai kombinasi antara kesehatan dan kegiatan amal merupakan bentuk nyata dari harmoni sosial yang harus terus dirawat oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Pertama, sehatnya dapat, kemudian silaturahminya dapat, dan persahabatan kebudayaannya juga dapat,” ujar Sujiwo saat memberikan sambutan di lokasi kegiatan.
Ia menambahkan bahwa kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan masih sangat kuat di Kubu Raya. Hal ini sejalan dengan semangat perayaan Waisak yang mengedepankan cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang perbedaan.
Dalam arahannya, Sujiwo menekankan bahwa besarnya anggaran pembangunan, baik yang bersumber dari daerah maupun negara, tidak akan memberikan hasil maksimal jika stabilitas keamanan terganggu. Persatuan dan kesatuan disebutnya sebagai modal utama bagi pemerintah untuk mengeksekusi program-program yang menyentuh kepentingan rakyat.
“Kenapa? Karena persatuan dan kesatuan itu modal utama membangun bangsa ini. Itu juga modal utama saya bersama Pak Wakil Bupati dan pemerintah dalam membangun daerah untuk rakyat,” ucapnya dengan tegas.
Ia mengingatkan bahwa gangguan terhadap kondusivitas daerah hanya akan menghambat proses pembangunan infrastruktur maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kerukunan bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga.
Menutup sambutannya, Sujiwo menegaskan kembali komitmennya untuk berdiri di atas semua golongan. Sebagai kepala daerah, ia memposisikan diri sebagai pengayom bagi seluruh penganut agama di Kubu Raya guna memastikan setiap warga merasa aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah serta aktivitas sosialnya.
“Saya seorang muslim, tetapi sebagai bupati, saya harus menjadi orang tua bagi semua umat, baik Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, maupun Konghucu,” tegas Sujiwo.
Langkah nyata tersebut ditunjukkannya dengan hadir langsung di tengah umat Buddha yang sedang bersiap merayakan Waisak. Ia berharap semangat persatuan lintas etnis dan agama ini terus terjaga demi keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Kubu Raya ke depan.