KALIMANTAN BARAT — Inggris melibas Yunani dengan agregat 8-1 pada putaran pertama play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita, memperlihatkan ketimpangan struktur yang dianggap perlu ditinjau UEFA. Hasil itu bukan kejadian tunggal karena negara-negara top Eropa lain yang terlempar ke play-off juga menang telak atas lawan berperingkat jauh di bawah mereka.
Dua leg melawan Yunani berakhir tanpa drama berarti bagi Inggris. Tim asuhan Sarina Wiegman menang agregat 8-1 atas lawan yang berjarak 55 peringkat di bawah mereka dalam ranking dunia. Yunani sempat memberi perlawanan di kandang meski tetap kalah 3-1, tetapi secara keseluruhan mereka tidak punya cukup modal untuk mengancam dalam format dua leg.
Kemenangan besar itu bukan cerita tunggal. Sejumlah tim kuat Eropa yang gagal lolos otomatis dari fase liga juga berpesta gol di play-off, memunculkan pertanyaan apakah proses kualifikasi saat ini masih relevan dengan perkembangan sepak bola wanita Eropa yang makin kompetitif.
Hanya Satu Tim Lolos Otomatis dari Setiap Grup Fase Liga
Akar masalahnya ada di regulasi. Dari fase grup liga, hanya satu tim per grup yang mendapat tiket otomatis ke putaran final. Tim peringkat dua harus menempuh jalur play-off, dan di situlah ketimpangan terjadi.
Belanda, juara Eropa 2017, finis kedua di grup di belakang Prancis yang berperingkat enam dunia. Mereka kemudian menghancurkan Hungaria dengan agregat 11-0. Norwegia, juara dunia 1995 dan enam kali finalis Eropa, kalah dari Jerman di fase grup lalu membantai Rumania 8-0.
Swedia dan Republik Irlandia, dua tim lain yang terlempar dari League A, masing-masing menang agregat 15-0 dan 12-0 atas lawan mereka. Inggris sendiri tergabung di grup yang sama dengan juara dunia Spanyol, sehingga harus menerima nasib serupa meski finis sebagai runner-up League A3 hanya karena selisih head-to-head.
Wiegman: Fokus Kami Sekarang Ukraina
Pelatih Inggris Sarina Wiegman enggan mengomentasi panjang soal format kualifikasi. Ia memilih fokus ke laga berikutnya melawan Ukraina.
"Tentu kami ingin lolos langsung, tapi tidak demikian kenyataannya," kata Wiegman. "Fakta yang ada sekarang, kami di play-off, kami sudah melawan Yunani, sekarang kami lolos, dan selanjutnya kami akan melawan Ukraina. Itu fokus saya."
Wiegman menyerahkan urusan evaluasi format ke UEFA. "UEFA akan meninjau bagaimana semua ini diatur dan melihat apakah menurut mereka ini berjalan atau harus lebih baik, atau berbeda. Saya rasa bukan tempat saya sekarang untuk meninjau itu," ujarnya.
Inggris Hadapi Ukraina, Lawan yang Sudah Mereka Kalahkan Dua Kali
Inggris masih harus melewati satu babak play-off lagi melawan Ukraina. Leg pertama digelar di kandang Ukraina pada 1 Desember, dan leg kedua di Stadion Wembley pada 5 Desember.
Ukraina bukan lawan asing. Inggris sudah mengalahkan mereka dua kali di fase liga dengan agregat 9-1. Situasi ini memunculkan kejanggalan tersendiri: Inggris harus mengalahkan tim yang sama setidaknya tiga kali hanya untuk mengamankan tempat di putaran final.
Rekor Inggris di kualifikasi sebenarnya impresif. Dari delapan laga terakhir, mereka menang tujuh kali, mencetak 21 gol, dan hanya kebobolan enam. Satu-satunya kekalahan terjadi di kandang juara dunia Spanyol, dan mereka bahkan sempat menang 1-0 atas Spanyol di Wembley.
Ketimpangan Grup: Swiss dan Hungaria di Jalur Lebih Mudah
Perbandingan antar-grup memperlihatkan ketidakadilan yang lebih tajam. Swiss dan Hungaria sama-sama mengumpulkan poin di fase liga, tetapi grup mereka tidak memuat satu pun tim dari 45 besar ranking dunia.
Inggris sebaliknya. Mereka ditempatkan di League A bersama Islandia yang berperingkat 13 dan Spanyol yang berperingkat satu dunia dalam grup berisi empat tim. Total 15 poin Inggris hanya kalah dari tiga tim lain, tetapi tetap tidak cukup untuk lolos langsung.
Wiegman pernah menyoroti hal ini setelah kekalahan 4-0 dari Spanyol pada Juni. "Kompetisi di Eropa benar-benar tinggi," katanya. "Yang mengecewakan adalah kami menang lima laga, punya 15 poin, berada di grup bersama juara dunia, dan tetap tidak bisa lolos."
Format Kualifikasi Dianggap Perlu Ditinjau
Pertanyaan besarnya bukan sekadar soal skor besar, melainkan apakah proses kualifikasi masih mencerminkan peta kekuatan sepak bola wanita Eropa. Ketika tim-tim sekelas Inggris, Belanda, Norwegia, dan Swedia harus melewati lawan yang jauh lebih lemah, nilai kompetitif play-off jadi dipertanyakan.
UEFA belum memberi pernyataan resmi soal kemungkinan