Pencarian

Bahlil: Indonesia Nomor 2 Dunia di Ekosistem Baterai Mobil Setelah China

Senin, 12 Oktober 2026 • 13:37:31 WIB
Bahlil: Indonesia Nomor 2 Dunia di Ekosistem Baterai Mobil Setelah China
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pernyataan dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti.

KALIMANTAN BARAT — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia kini menempati posisi kedua dunia dalam pengembangan ekosistem industri baterai mobil, di bawah China. Posisi itu diraih lewat rantai industri terintegrasi dari tambang nikel hingga produksi baterai sel. Bahlil menyebut hasil hilirisasi baru terasa setelah satu setengah sampai dua tahun berjalan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan kerangka pengembangan ekosistem baterai mobil nasional yang telah disiapkan sejak dirinya ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi. Fokus utamanya membangun industri terintegrasi dari hulu ke hilir, bukan sekadar menambang dan mengekspor bahan mentah.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam acara Bicara Bersama Retno Pinasti, dikutip Senin (12/10/2026). Menurut dia, Indonesia sudah menjalankan tahapan-tahapan ekosistem tersebut dan kini punya posisi penting dalam rantai pasok baterai global.

"Kita nomor dua di dunia setelah China," kata Bahlil.

Rantai Produksi dari Tambang sampai Baterai Sel

Ekosistem yang dibangun mencakup sejumlah tahapan berurutan. Dimulai dari penambangan bahan baku, pengelolaan di fasilitas peleburan atau smelter, lalu pemrosesan memakai teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Setelah itu masuk tahap produksi prekursor dan katoda, sebelum akhirnya dirakit menjadi baterai sel. Rangkaian panjang inilah yang membuat hilirisasi tidak bisa instan.

"Hilirisasi itu paling cepat. Satu setengah tahun sampai dua tahun baru hasilnya," ujar Bahlil.

Dia menegaskan, percepatan hilirisasi menuntut keberanian pemerintah dalam mengambil kebijakan. Indonesia perlu mengembangkan industri pengolahan di dalam negeri agar tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.

Belajar dari Pengalaman Masa Kolonial

Bahlil mengingatkan pengalaman Indonesia pada masa kolonial, ketika sumber daya alam diekspor dalam bentuk bahan baku mentah. Pola itu membuat negara tidak menikmati nilai tambah dari kekayaan alamnya sendiri.

Karena itu, pengembangan industri dari hulu hingga hilir dinilai penting agar Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Ekosistem baterai mobil menjadi salah satu contoh konkret upaya membangun industri terintegrasi di dalam negeri.

Dengan memperkuat setiap tahapan produksi, dari bahan baku sampai produk akhir, Indonesia berupaya menaikkan peran industri nasional dalam rantai pasok global. Langkah ini sekaligus memperluas kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam di dalam negeri.

Follow radarsambas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks