Pencarian

Vaksin TBC Baru: BPOM Ungkap 3 Kandidat dan Progres Uji Kliniknya

Rabu, 21 Oktober 2026 • 11:07:01 WIB
Vaksin TBC Baru: BPOM Ungkap 3 Kandidat dan Progres Uji Kliniknya
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan perkembangan tiga kandidat vaksin TBC dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

KALIMANTAN BARAT — Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia untuk beban kasus TBC, dengan lebih dari 1,06 juta kasus baru dan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun. Karena efektivitas vaksin BCG menurun, BPOM memantau tiga kandidat vaksin TBC baru yang sedang diuji, termasuk satu yang melibatkan 2.000 relawan dari Indonesia.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan perkembangan tiga pendekatan pengembangan vaksin tuberkulosis dalam konferensi pers di kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Vaksin BCG dari bakteri yang dikembangkan sebelumnya masih dipakai, namun efektivitasnya dinilai menurun sehingga perlu pendamping kandidat baru.

"Vaksin yang berasal dari bakteri yang dikembangkan, yang dulu disebut dengan BCG, itu tetap ada. Tetapi, tentu efektivitasnya sudah menurun, makanya perlu ada pengembangan baru," kata Taruna.

Vaksin TBC dari Gates Foundation Masuk Fase 3

Kandidat unggulan yang sedang diuji adalah vaksin TBC yang dipromosikan miliarder Bill Gates. Vaksin tersebut kini memasuki uji klinik fase 3 secara multisentris yang melibatkan puluhan ribu sukarelawan di berbagai negara.

"Jumlah sampel di seluruh dunia kalau nggak salah hampir 60 ribu sampel. Dari Indonesia cuma 2 ribu, karena berdasarkan rasionya kita ada sekitar 1 juta lebih pengidap tuberkulosis," jelas Taruna.

Hasil sementara uji klinik ini disebut cukup menjanjikan. "Jadi on progress sekarang, tapi so far saya lihat hasil sementaranya bagus," lanjutnya.

Vaksin Inhalasi CanSino dan Etana Siap Masuk Fase 2

Kandidat kedua adalah vaksin TBC jenis inhalasi yang digarap CanSino bekerja sama dengan grup Etana. Vaksin diberikan melalui hirupan saluran pernapasan, bukan suntikan.

Pada uji klinik fase 1, profil keamanannya tercatat baik. "Di fase satunya juga cukup bagus, aman. Itu dia akan masuk fase 2," tutur Taruna.

Kandidat Vaksin Buatan BRIN Dievaluasi Pekan Depan

Kandidat ketiga datang dari dalam negeri melalui penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BPOM akan menggelar evaluasi awal terhadap rencana riset tim BRIN dalam waktu dekat.

"Kemudian yang dikembangkan oleh BRIN, Badan Riset Inovasi, sekarang kita akan evaluasi rencana minggu depan dari timnya BRIN. Jadi tentang vaksin tuberkulosis itu on progress semuanya," tegas Taruna.

Mengapa Vaksin Baru Dibutuhkan

Data Kementerian Kesehatan bersama WHO dalam Global Tuberculosis Report menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk beban kasus TBC setelah India. Estimasi kasus mencapai lebih dari 1,06 juta kasus baru per tahun, dengan angka kematian berkisar 125 ribu orang.

Angka itu menjelaskan mengapa kehadiran vaksin baru yang lebih efisien dinantikan. Vaksin dengan perlindungan lebih baik bisa menekan laju penularan di kelompok usia produktif dan anak-anak.

Yang Perlu Ibu Ketahui soal TBC pada Anak

TBC bukan penyakit yang hanya menyerang orang dewasa. Anak-anak bisa tertular dari anggota keluarga yang sakit, terutama di rumah dengan ventilasi kurang baik dan penghuni padat.

Kenali tanda yang perlu diwaspadai: batuk lebih dari dua minggu, demam lama tanpa sebab jelas, berat badan turun, dan keringat malam. Bila muncul gejala seperti ini, segera bawa anak ke puskesmas atau dokter untuk pemeriksaan.

Pengobatan TBC pada anak tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah. Semakin cepat terdeteksi, semakin kecil risiko komplikasi dan penularan ke anggota keluarga lain.

Perkembangan tiga kandidat vaksin TBC ini jadi kabar baik jangka panjang bagi keluarga Indonesia. Sambil menunggu hasil uji klinik, menjaga ventilasi rumah, mengenali gejala dini, dan memeriksakan anak saat batuk tak kunjung sembuh tetap jadi langkah paling nyata hari ini.

Follow radarsambas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks