KALIMANTAN BARAT — Setelah sepekan dipakai sebagai ponsel harian, Galaxy Z Fold8 mengejutkan lewat daya tahan baterai—screen-on time sempat menyentuh 8 jam 14 menit dengan sisa 2 persen. Ponsel lipat 201 gram ini dijual di kelas premium, bersaing dengan foldable lain di segmen yang sama, dan menyasar pekerja mobile yang butuh layar lega tanpa mau kompromi bobot. Tapi ada catatan: kamera terasa biasa untuk harganya, dan belum ada telefoto khusus.
Nikasius Adi, kreator teknologi, memakai Galaxy Z Fold8 lebih dari satu minggu sebagai perangkat utama. Ulasannya di video tidak berhenti di spesifikasi kertas, tapi merekam kebiasaan harian: membaca, kerja multitasking, sampai main Mobile Legends. Dari situ terlihat mana yang benar-benar berubah dari generasi sebelumnya dan mana yang masih jadi pekerjaan rumah Samsung.
Perubahan paling terasa ada di bodi. Bobot 201 gram membuat Z Fold8 lebih ringan dibanding generasi yang pernah dipakai Nikasius, dan efeknya langsung kerasa saat masuk saku.
Ia menyebut bentuk perangkat tidak terlalu mengganjal ketika duduk atau beraktivitas. Ini soal kecil yang justru menentukan apakah ponsel lipat betah dibawa seharian atau malah ditinggal di meja.
Layar utama 7,6 inci dengan rasio 4:3 memberi ruang baca dan kerja yang lebih lega. Sementara layar luar 5,5 inci dipakai untuk keperluan cepat tanpa harus membuka perangkat.
Fitur multitasking memungkinkan tiga aplikasi tampil bersamaan. Bagi Nikasius, ini yang membuat Z Fold8 berguna untuk riset dan pekerjaan, bukan sekadar layar besar untuk konsumsi konten.
Kombinasi layar 4:3 dan jendela aplikasi ganda membuat alur kerja terasa lebih rapi dibanding ponsel biasa. Namun perlu diuji lebih lama apakah susunan tiga aplikasi tetap nyaman saat dipakai berjam-jam, bukan hanya sesekali.
Bagian yang paling mengejutkan justru daya tahan. Nikasius mencatat screen-on time 8 jam 14 menit dengan sisa baterai sekitar 2 persen pada satu hari pemakaian.
Hari berikutnya, perangkat mencatat screen-on time sekitar 6 jam 36 menit dengan sisa daya 14 persen. Pemakaiannya mencakup WhatsApp, YouTube, Instagram, kamera, Netflix, dan Mobile Legends—campuran yang cukup mewakili pemakaian berat.
Baterai 4.800 mAh dengan pengisian kabel 45 watt jadi kombinasi yang wajar di kelas ini. Tetap perlu diingat, hasil bisa berbeda tergantung aplikasi, jaringan, tingkat kecerahan, dan kebiasaan pengguna.
Kamera jadi catatan paling serius. Hasil foto dan video dinilai masih tergolong baik, termasuk di kondisi cahaya rendah, tapi belum memberi kesan istimewa untuk perangkat di kelas harga premium.
Z Fold8 tidak punya kamera telefoto khusus. Samsung mencantumkan kamera belakang 50 MP dan 50 MP, dengan zoom digital hingga 10 kali—angka yang terdengar besar, tapi bukan pengganti lensa tele sungguhan.
Bagi pengguna yang sering memotret jarak jauh, keterbatasan ini bakal terasa. Untuk foto sehari-hari dan konten media sosial, hasilnya masih memadai.
Satu lagi yang dicatat Nikasius: suhu perangkat naik saat dipakai memotret dan merekam video. Ini bukan masalah baru di ponsel lipat, tapi tetap relevan bagi yang sering produksi konten.
Belum ada data pengukuran suhu dalam derajat, jadi seberapa panas dan apakah sampai menurunkan performa masih perlu pengujian lebih lanjut. Yang jelas, pemakaian kamera intensif membuat bodi menghangat.
Kelebihan:
Kekurangan:
Galaxy Z Fold8 unggul sebagai perangkat kerja yang ringan dibawa dan tahan seharian. Bagi yang butuh layar lega untuk multitasking dan sering berpindah tempat, kombinasi bobot, layar 4:3, dan baterai 4.800 mAh ini masuk akal.
Yang perlu berpikir dua kali adalah pengguna yang menjadikan kamera sebagai alasan utama membeli. Tanpa telefoto khusus dan dengan hasil yang dinilai biasa di kelas premium, Z Fold8 bukan pilihan pertama untuk fotografi serius.
Catatan suhu saat merekam video juga perlu dipertimbangkan kreator konten yang sering shooting dalam sesi panjang. Untuk sisanya, ponsel lipat ini membuktikan bahwa bobot ringan dan daya tahan baterai bisa berjalan bersama.