BNI Cetak PPOP Rp27,5 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah Perseroan

Penulis: Ujang Rahmat  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:37:01 WIB
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan capaian PPOP Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026.

KALIMANTAN BARAT — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6 persen secara tahunan. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam sejarah perseroan untuk periode yang sama. Kinerja BNI ditopang kredit yang naik 22,2 persen dan dana murah yang menguat 19,6 persen.

Pertumbuhan kredit menjadi mesin utama di balik rekor laba operasional BNI. Hingga akhir kuartal III 2026, portofolio kredit perseroan menembus Rp992,5 triliun, naik 22,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan capaian itu lahir dari disiplin menjaga fundamental di tengah pasar yang bergejolak. Perseroan, katanya, tidak mengejar ekspansi kredit dengan mengorbankan kualitas aset.

"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).

Dana Murah Tumbuh Dua Digit

Dari sisi pendanaan, BNI mencatat kenaikan current account savings account (CASA) sebesar 19,6 persen secara tahunan menjadi Rp733,7 triliun. Pertumbuhan dana murah ini menjaga biaya bunga tetap terkendali di saat bank lain berlomba menarik deposito berbunga tinggi.

Kualitas aset ikut membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun dari 2 persen menjadi 1,9 persen. Penurunan tipis ini menunjukkan portofolio kredit yang digenjot tetap terkelola.

Pendapatan Bunga dan Komisi Ikut Naik

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun. Sementara pendapatan berbasis komisi atau fee-based income meningkat 8,3 persen YoY menjadi Rp13,9 triliun.

Kedua sumber pendapatan itu menopang laba operasional sebelum pencadangan yang mencapai Rp27,5 triliun, atau naik 11,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba Bersih Rp16,1 Triliun

Setelah memperhitungkan pencadangan, BNI membukukan laba bersih Rp16,1 triliun hingga kuartal III 2026, naik 6,6 persen secara tahunan. Angka ini menempatkan BNI di jalur pertumbuhan yang stabil meski tekanan ekonomi global belum surut.

Bagi nasabah dan investor, kombinasi kredit tumbuh dua digit, CASA menguat, dan NPL menurun menjadi sinyal bahwa BNI mampu melebarkan bisnis tanpa mengorbankan kualitas aset. Rekor PPOP Rp27,5 triliun menjadi penanda kapasitas perseroan menghasilkan laba operasional sebelum beban risiko.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top