Direksi BRMS Borong 5,2 Juta Saham, Sinyal Ekspansi Tambang Emas Palu

Penulis: Ujang Rahmat  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 08:37:31 WIB
Direktur BRMS Muhammad Sulthon menambah kepemilikan saham menjadi 310.500 lembar setelah membeli 90.000 saham pada 2 Oktober 2026.

KALIMANTAN BARAT — Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Muhammad Sulthon kembali menyerok 90.000 lembar saham pada 2 Oktober 2026 di harga Rp545 per saham, menambah kepemilikannya menjadi 310.500 lembar. Aksi jajaran direksi yang kompak memborong saham ini muncul saat BRMS mengebut pengembangan tambang emas bawah tanah di Palu dengan target produksi pertengahan 2027.

Aksi Sulthon itu menambah deretan panjang pembelian saham oleh jajaran direksi BRMS dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, pada 1 Oktober 2026, ia memborong 180.500 saham dalam tiga tahap dengan harga rata-rata Rp545 hingga Rp565 per lembar. Pada 28 September 2026, ia juga membeli 40.000 saham di harga Rp640.

Dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sulthon menyatakan tujuan pembelian tersebut murni untuk investasi.

Empat Direksi Akumulasi 5,2 Juta Saham

Sulthon tidak bergerak sendiri. Pada 22 September 2026, Direktur BRMS lainnya, Adika Aryasthana Bakrie, memborong 750.500 saham di harga Rp665 per lembar.

Selama dua tahun terakhir, tercatat empat direksi telah mengakumulasi lebih dari 5,2 juta saham BRMS. Selain Sulthon dan Adika, nama-nama itu adalah Adrian Wicaksono, Charles Daniel Gobel, dan Herwin Wahyu Hidayat.

Manajemen BRMS menyatakan akumulasi saham oleh direksi mencerminkan keyakinan terhadap prospek pertumbuhan perusahaan. Pembelian saham oleh orang dalam (insider) memang kerap dibaca pasar sebagai sinyal positif terhadap kinerja emiten ke depan.

Tambang Emas Bawah Tanah Palu Dikebut

Keyakinan direksi bertumpu pada proyek tambang emas bawah tanah di Palu, Sulawesi Tengah. BRMS tengah meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan secara agresif dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari.

Proyek ini menyasar bijih dengan kadar emas tinggi, yakni 3,5 hingga 4,9 gram per ton. Kadar tersebut tergolong premium dibandingkan banyak tambang emas lain di Indonesia yang umumnya berada di bawah 2 gram per ton.

BRMS menargetkan tambang bawah tanah itu mulai beroperasi pada pertengahan 2027. Jika terealisasi, kapasitas pengolahan yang naik empat kali lipat berpotensi mendongkrak volume produksi emiten secara signifikan.

Dampak ke Pasar dan Investor

Bagi investor ritel, pembelian saham oleh direksi menjadi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini masih menarik. Sulthon membeli di rentang Rp545 hingga Rp640, sementara Adika di harga Rp665.

Namun, aksi borong saham oleh orang dalam bukan jaminan harga saham akan langsung naik. Pasar tetap menunggu bukti realisasi produksi tambang Palu yang baru akan terlihat dalam dua tahun ke depan.

BRMS merupakan salah satu emiten tambang mineral yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Selain emas, perusahaan ini juga memiliki portofolio tambang mineral lain melalui sejumlah anak usaha.

Yang perlu dicermati, proyek tambang bawah tanah memiliki risiko teknis lebih tinggi dibanding tambang terbuka. Dibutuhkan pendanaan, teknologi, dan keahlian operasional yang mumpuni agar target produksi 2027 tidak meleset.

Pasar tampaknya menimbang dua hal sekaligus: sinyal keyakinan dari dalam perusahaan, dan ketidakpastian eksekusi proyek yang masih berjalan.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top