KALIMANTAN BARAT — Solo menyimpan warisan kuliner yang bertahan lintas generasi, dari resep turun-temurun hingga racikan bumbu yang tak berubah sejak puluhan tahun lalu. Delapan tempat makan berikut sudah berdiri sejak era 1920-an hingga 1980-an dan masih jadi buruan wisatawan maupun warga lokal hingga kini.
Bagi pecinta kuliner, menjelajah Solo rasanya belum lengkap tanpa mencicipi hidangan dari kedai-kedai tua yang masih setia dengan resep aslinya. Berikut delapan tempat makan legendaris yang bisa masuk daftar buruanmu saat berkunjung ke Kota Surakarta.
Selat Solo jadi hidangan wajib yang menggabungkan cita rasa Eropa dan Jawa dalam satu piring. Selat Solo Mbak Lies berdiri sejak 1987 dan menyajikan daging sapi, wortel, buncis, kentang, serta telur rebus yang disiram kuah manis gurih.
Lokasinya ada di Jl. Yudhistira No.9, Serengan, dan buka setiap hari pukul 08.00-18.00.
Berdiri sejak 1974, Soto Gading pernah jadi langganan mantan Presiden Jokowi. Kuah beningnya segar dan cocok disantap sebagai sarapan, berisi nasi, mie, kentang, dan ayam suwir.
Tambahkan sate, tempe goreng, atau perkedel kentang agar makin nikmat. Alamatnya di Jl. Brigjen Sudiarto No.75, Joyosuran, buka pukul 06.00-16.00.
Sejak 1930, Es Dawet Telasih Bu Dermi jadi buruan di Pasar Gedhe Solo. Antreannya panjang, jadi datang lebih pagi kalau tak ingin kehabisan.
Semangkuk es dawet berisi dawet, ketan hitam, cincau, biji selasih, santan, dan lelehan gula jawa. Buka setiap hari pukul 06.00-14.30 di Pasar Gedhe Hardjonagoro, Jl. Jend. Urip Sumoharjo.
Serabi Notosuman sudah ada sejak 1923 dan jadi oleh-oleh khas Solo favorit wisatawan. Keunikannya, serabi dimasak dengan arang lalu digulung dan dilapisi daun pisang saat matang.
Untuk sarapan, serabi hangat di Jl. Moh. Yamin No.28, Jayengan, ini bisa jadi pilihan. Buka pukul 05.00-17.00.
Kedai es krim ini berdiri sejak 1952 dan masih mempertahankan resep aslinya. Pilihan rasanya beragam, disajikan dengan wafle, wafer, hingga buah-buahan.
Suasananya membawa nostalgia tempo dulu. Lokasinya di Jl. Slamet Riyadi No.132, Keprabon, buka pukul 11.00-21.00.
Timlo Sastro sudah ada sejak 1952 dan kini punya dua cabang di Solo. Satu porsi timlo berisi sosis solo, telur pindang, jamur kuping, wortel, bihun, dan suwiran ayam dengan kuah kaldu bening.
Cabangnya ada di Jl. Abdul Muis No.32A, Kepatihan Kulon, dan Jl. Dr. Wahidin No.30, Purwosari.
Setelah berbelanja batik di Pasar Klewer, Tengkleng Klewer Bu Edi bisa jadi tempat mengisi perut. Tempat makan ini hadir sejak 1971 dan hanya buka beberapa jam, sering habis kurang dari dua jam.
Tengkleng terbuat dari potongan daging kambing dengan kuah kuning berempah, gurih dan sedikit pedas. Buka pukul 12.00-15.30 di Pasar Klewer, Jl. DR. Radjiman, Kauman.
Solo juga punya segudang kuliner malam, salah satunya nasi liwet yang jadi incaran saat malam tiba. Hidangan ini cocok jadi penutup perjalanan kuliner seharian sebelum kembali ke penginapan.
Dari selat Solo hingga tengkleng, kedelapan tempat makan ini membuktikan bahwa resep warisan lintas generasi tetap punya tempat di lidah wisatawan. Sempatkan mampir ke salah satunya saat berkunjung ke Solo.