PONTIANAK — Snapchat mengambil langkah tegas membatasi peredaran konten AI slop, yaitu materi berbasis kecerdasan buatan yang diproduksi massal, berulang, dan umumnya berkualitas rendah. Melalui pembaruan algoritma, video yang seluruh proses pembuatannya dilakukan oleh mesin tanpa kontribusi kreatif manusia tidak lagi memenuhi syarat untuk direkomendasikan di Spotlight.
Spotlight sendiri merupakan kanal yang menampilkan video populer dari para kreator kepada pengguna. Dengan perubahan ini, Snapchat ingin memastikan lini masa rekomendasi tidak dipenuhi konten sintetis yang dihasilkan secara otomatis.
Perusahaan menilai maraknya konten AI berkualitas rendah berpotensi menggerus pengalaman pengguna saat menjelajahi Spotlight. Distribusi rekomendasi kini lebih memprioritaskan karya yang lahir dari perspektif asli, cerita personal, dan momen yang dipilih seseorang untuk dibagikan.
“Kami ingin Spotlight tetap menjadi tempat bagi orang-orang untuk menemukan kreativitas autentik dari manusia nyata. Kami percaya perspektif asli, cerita personal, dan momen yang dipilih seseorang untuk dibagikan memiliki nilai yang tidak tergantikan,” tulis Snapchat dalam pengumuman resminya, dikutip dari Social Media Today, Minggu (2/8/2026).
Kebijakan ini bukan berarti Snapchat menolak teknologi AI secara keseluruhan. Kreator masih diperbolehkan memanfaatkan fitur AI bawaan Snapchat untuk menyunting video, memperbaiki visual, atau menambahkan efek kreatif selama materi utama tetap berasal dari karya manusia.
Konten semacam itu tetap berpeluang direkomendasikan di Spotlight. Snapchat juga akan memberikan label transparansi pada video yang memanfaatkan teknologi AI agar pengguna mengetahui apakah sebuah konten dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Snapchat belum menjelaskan secara rinci bagaimana sistemnya membedakan video yang sepenuhnya dihasilkan AI dengan video yang hanya menggunakan AI sebagai alat bantu. Perusahaan mengakui proses identifikasi tersebut masih menjadi tantangan.
“Tidak ada sistem deteksi yang sempurna,” tulis Snapchat.
Mekanisme pendeteksian AI slop diperkirakan akan terus disempurnakan seiring perkembangan teknologi. Namun, arah kebijakan perusahaan sudah menunjukkan komitmen untuk mempertahankan dominasi karya manusia di ruang rekomendasi.
Langkah Snapchat ini kontras dengan strategi yang ditempuh Meta. Pada Februari lalu, Meta memperkenalkan aplikasi video pendek Vibes yang justru menghadirkan umpan berisi konten yang sebagian besar dihasilkan AI sebagai bentuk baru ekspresi kreatif.
Perbedaan pendekatan tersebut menunjukkan setiap platform media sosial memiliki pandangan berbeda mengenai masa depan konten AI. Snapchat menempatkan AI sebagai alat pendukung kreativitas, sedangkan Meta mendorong pemanfaatan AI sebagai sumber utama pembuatan konten.
Sejumlah platform lain juga mulai membatasi penyebaran AI slop. LinkedIn, misalnya, memperluas fitur pelaporan terhadap unggahan yang diduga merupakan AI slop serta mengembangkan sistem klasifikasi untuk mengurangi kemunculan konten AI berkualitas rendah.
Bagi kreator, perubahan algoritma ini dinilai penting karena rekomendasi Spotlight merupakan salah satu jalur utama agar konten mereka ditemukan oleh pengguna yang belum mengikuti akun mereka. Dengan membatasi distribusi AI slop, Snapchat ingin memastikan peluang tersebut tetap berpihak kepada pembuat konten manusia.