Inline-6 dianggap sebagai pilihan superior oleh banyak penggemar otomotif. Alirannya mulus, keseimbangan alaminya tidak perlu tambahan poros keseimbangan (balance shaft) yang rumit. Namun secara teknis, konfigurasi ini juga membawa kompromi yang signifikan — terutama dalam hal kepraktisan dan biaya perawatan jangka panjang.
Masalah paling kentara dari mesin inline-6 adalah panjang fisiknya. Dengan enam silinder berjajar lurus, blok mesin ini secara alami lebih panjang dari V6 yang bisa diringkas. Konsekuensinya? Ruang mesin harus didesain lebih panjang, yang langsung berdampak pada tata letak kendaraan.
Bagi mekanik, ini artinya akses ke komponen di bagian depan atau belakang mesin jadi lebih terbatas. Mengganti busi atau koil pengapian yang berada di sisi firewall (sekat kabin) bisa menjadi pekerjaan yang memakan waktu. Di mobil-mobil modern dengan ruang mesin yang sudah sangat padat, keluhan soal "sempitnya" ruang kerja ini jadi salah satu yang paling sering terdengar di bengkel.
Blok besi atau aluminium yang lebih panjang otomatis membawa bobot lebih. Mesin inline-6 umumnya lebih berat dibanding V6 dengan kapasitas yang sama. Bobot ekstra ini menggantung di atas poros roda depan, terutama pada mobil berpenggerak depan — walau sebagian besar inline-6 klasik menggunakan penggerak belakang.
Distribusi bobot yang kurang ideal ini bisa memengaruhi karakter handling. Mobil jadi lebih rentan terhadap understeer saat diajak bermanuver cepat. Untuk pabrikan, menempatkan mesin seberat ini di posisi yang tepat butuh rekayasa sasis yang tidak murah.
Ini ironis untuk mesin yang dikenal halus. Inline-6 memang unggul dalam keseimbangan primer dan sekunder — tidak perlu balance shaft seperti mesin 4-silinder. Tapi ia tetap memiliki masalah getaran torsional, yaitu puntiran pada poros engkol (crankshaft) akibat panjangnya poros tersebut.
Semakin panjang poros engkol, semakin besar momen puntir yang harus ditahan. Pada putaran mesin tinggi, getaran ini bisa menyebabkan keausan tidak merata pada bantalan poros, atau bahkan kerusakan pada timing chain. Beberapa pabrikan menggunakan peredam getaran (harmonic damper) yang lebih canggih untuk menekan efek ini, tapi komponen itu sendiri bisa menjadi titik lemah baru yang perlu diganti seiring waktu.
Dari sisi pabrikan, inline-6 lebih mahal diproduksi dibanding V6. Blok mesin yang panjang butuh proses pengecoran dan permesinan yang lebih presisi. Jumlah komponen bergerak memang lebih sedikit, tapi dimensinya lebih besar.
Dari kantong konsumen, biaya perawatan juga ikut membengkak. Kepala silinder (cylinder head) yang panjang berarti biaya overhaul lebih tinggi. Jika ada kebocoran pada gasket kepala silinder, tenaga kerja untuk membongkar dan memasang kembali mesin inline-6 umumnya lebih mahal ketimbang V6. Belum lagi harga komponen seperti timing chain set atau harmonic balancer yang spesifik untuk tipe mesin ini.
Meski begitu, para penggemar sejati biasanya menganggap semua kekurangan ini sebagai harga wajar untuk sensasi putaran mesin yang mulus dan karakter tenaga yang linear. Tapi bagi konsumen awam yang sekadar mencari mobil andal, pertimbangan biaya jangka panjang ini patut dimasukkan ke dalam kalkulasi sebelum memutuskan membeli.