Tato di Pergelangan Tangan Bisa Ganggu Akurasi Detak Jantung Smartwatch, Ini Solusinya

Penulis: Pandu Wibisono  •  Minggu, 21 Juni 2026 | 00:02:01 WIB
Sensor detak jantung smartwatch dapat terganggu oleh tato di pergelangan tangan.

KALIMANTAN BARAT — Sensor yang digunakan oleh hampir semua jam tangan pintar dan gelang kebugaran saat ini mengandalkan teknologi bernama photoplethysmography (PPG). Secara sederhana, sensor ini memancarkan cahaya hijau dari bagian bawah perangkat ke kulit untuk mendeteksi aliran darah. Tapi ketika cahaya itu harus menembus tinta tato—terutama tato berwarna gelap dan pekat—hasilnya bisa kacau.

Kenapa Tato Bisa Mengacaukan Sensor

Dua masalah utama yang paling sering dikeluhkan pengguna adalah pembacaan detak jantung yang tidak akurat dan perangkat yang tidak mau menyala otomatis saat dikenakan. Untuk kasus kedua, smartwatch menggunakan kombinasi sensor cahaya, akselerometer, dan sensor listrik untuk memastikan perangkat ada di pergelangan tangan. Tato bisa membuat sensor ini gagal mendeteksi kulit manusia.

Garmin secara terbuka menulis di laman dukungannya: "Tato (tinta, pola, saturasi) dapat menghalangi cahaya sensor detak jantung, menyebabkan pembacaan yang tidak akurat atau hilang. Untuk performa terbaik, kenakan jam di area kulit yang bebas tato jika memungkinkan." Apple pun mengeluarkan peringatan serupa sejak Apple Watch generasi pertama dirilis.

Solusi Sementara yang Bisa Dicoba

Belum ada solusi permanen dari pabrikan selain menyarankan pengguna memakai perangkat di pergelangan yang tidak bertato. Tapi pengguna di forum-forum seperti Reddit sudah menemukan beberapa trik:

  • Pindah posisi ke sisi dalam pergelangan — Jika area dalam pergelangan tangan tidak bertato, letakkan smartwatch di sana. Butuh adaptasi, tapi cukup efektif.
  • Ganti pergelangan — Jika satu sisi penuh tato, coba gunakan tangan satunya yang bersih.
  • Tempelan stiker atau lakban bening — Sebagian pengguna mengaku menempelkan stiker epoksi atau selotip bening di atas sensor bisa memperbaiki pembacaan. Anehnya, cara ini cukup banyak yang berhasil, meski tidak ada penjelasan teknis resmi.
  • Gunakan chest strap (tali dada) — Untuk akurasi detak jantung maksimal, chest strap seperti Polar H10 masih jadi standar emas. Tapi pastikan area dada juga bebas tato.

Hasil Riset: Tidak Selalu Gagal, Tergantung Aktivitas

Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2025 mencoba mengukur seberapa besar gangguan tato terhadap sensor. Peneliti menggunakan Polar Verity Sense di lengan yang bertato dan membandingkannya dengan area tanpa tato di lengan yang sama, plus Polar H10 sebagai patokan.

Hasilnya? Gangguan terbesar justru terjadi saat pengguna sedang diam (resting). Semakin tinggi intensitas aktivitas—misalnya saat jalan cepat atau jogging—semakin kecil selisih pembacaannya. Bahkan dalam beberapa kasus, tato sama sekali tidak mempengaruhi validitas data detak jantung.

Peneliti juga mencatat bahwa banyak variabel yang belum terpetakan: warna tinta, tingkat saturasi, dan kedalaman tato di kulit. Artinya, belum ada jaminan pasti apakah perangkat tertentu akan bermasalah atau tidak pada setiap orang.

Perangkat Terbaru Mulai Lebih Baik?

Secara anekdot, Google Pixel Watch 4 disebut-sebut jauh lebih toleran terhadap kulit bertato dibanding pendahulunya. Samsung juga pernah dikabarkan menyiapkan pembaruan untuk masalah ini beberapa tahun lalu, tapi keluhan pengguna Galaxy Watch masih terus bermunculan.

Pada akhirnya, masalah ini bukan hanya soal tato. Sensor berbasis cahaya juga terbukti kurang akurat pada kulit gelap, menunjukkan perlunya diversifikasi dalam riset dan pengembangan teknologi wearable. Sampai pabrikan benar-benar menyempurnakan sensor generasi berikutnya, satu-satunya cara paling aman adalah mencoba langsung perangkat di toko sebelum membeli—atau pastikan area pergelangan tangan Anda bersih dari tinta.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top