KALIMANTAN BARAT — Angka kematian tersebut dirilis dalam studi terbaru yang dipublikasikan pada Rabu (10/6/2026). Para peneliti menyebut angka itu masih bersifat konservatif lantaran belum memperhitungkan kerusakan habitat dan berkurangnya sumber makanan pascabencana.
Beberapa pekan setelah siklon, tim kemanusiaan menemukan bangkai orang utan di antara lumpur dan tumpukan kayu di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah. Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan di lokasi, mengaku baru pertama kali melihat satwa liar mati dalam kondisi seperti itu.
"Dulu mereka datang ke sini untuk makan buah. Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka," kata Deckey kepada BBC, Senin (15/6/2026).
Profesor Erik Meijaard dari Borneo Futures yang turut meneliti dokumentasi temuan tersebut menggambarkan kondisi di lapangan sangat ekstrem. "Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak," ujarnya.
Menurut Meijaard, longsor besar yang meruntuhkan beberapa hektar hutan membuat orang utan yang kuat sekalipun tak berdaya. "Ibarat neraka di dalam hutan saat itu," tambahnya.
Pada Desember 2025, Meijaard sempat memperkirakan sekitar 35 individu kemungkinan tewas. Namun, studi terbaru menunjukkan angka kematian jauh lebih tinggi dari perkiraan awal.
Para peneliti memperingatkan bahwa hujan ekstrem seperti yang dipicu Siklon Senyar berpotensi semakin sering terjadi. Siklon tersebut disebut sebagai peristiwa anomali yang diperparah oleh deforestasi dan perubahan iklim.
Dalam laporan studi itu disebutkan, ketika 58 individu mati dari 580 populasi di wilayah terdampak, angka itu setara 10 hingga 11%. "Angka kematian itu jauh melampaui kemampuan bertahan mereka. Jadi ini adalah peristiwa besar," tulis laporan tersebut.
Pemerintah Indonesia dilaporkan telah menghentikan sementara sejumlah proyek di kawasan hutan lindung Batang Toru, termasuk pertambangan dan perkebunan. Langkah itu diambil untuk meninjau kembali risiko ekologis di wilayah tersebut.
Para penulis studi menegaskan krisis ini menunjukkan betapa rentannya orang utan Tapanuli terhadap gabungan perubahan iklim, bencana ekstrem, dan hilangnya habitat. Mereka menyerukan dukungan internasional yang lebih kuat untuk mencegah kepunahan spesies ini.
"Krisis yang dihadapi orang utan Tapanuli menggambarkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan, sehingga membutuhkan respons terkoordinasi," tulis laporan itu. "Melalui perlindungan domestik yang diperkuat, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan finansial dan teknis global, kita masih bisa mencegah kepunahan pertama spesies kera besar di era modern."