Bupati Toraja Utara dan FKUB Studi Tiru ke Pontianak, Tertarik Adopsi Budaya Ngopi sebagai Perekat Sosial

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 15:45:31 WIB
Bupati Toraja Utara dan FKUB melakukan studi tiru budaya ngopi di Pontianak sebagai upaya mempererat kerukunan sosial.

PONTIANAK — Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong mengaku terkesan dengan budaya ngopi yang melekat di Kota Pontianak. Ia melihat warung kopi bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang publik efektif untuk mencairkan suasana dan menjalin komunikasi antarwarga dari berbagai latar belakang.

"Filosofi warung kopi itu luar biasa, ada pahit dan manisnya hidup dalam setiap gelas kopi," kata Frederik dalam pertemuan bersama Pemerintah Kota Pontianak dan FKUB Pontianak di Ruang Rapat Wali Kota, Kamis (4/6/2026).

Meskipun Toraja Utara dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas, Bupati mengakui jumlah warung kopi di daerahnya tidak sebanyak di Pontianak. Masyarakat Toraja Utara lebih terbiasa minum kopi di rumah masing-masing. Ia berencana mengadopsi budaya ini sekembalinya ke Toraja.

Warung Kopi Sebagai Modal Sosial

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, warung kopi menjadi salah satu kekuatan sosial yang unik di kotanya. Di tempat inilah warga lintas usia, suku, dan agama berkumpul, berdiskusi dari hal ringan hingga politik.

"Di sini walau di rumahnya ada kopi, tapi suasana di warung kopi, obrolannya, silaturahminya, yang membuat warung kopi selalu penuh," tuturnya.

Menurut Edi, konflik di Kalimantan Barat secara historis lebih sering dipicu sentimen kesukuan dibandingkan agama. Perselisihan kecil di jalan raya bisa meluas jika identitas suku dibawa-bawa. Untuk meredamnya, pemerintah kota mengandalkan majelis adat dan wadah Perkumpulan Merah Putih.

“Kalau ada kejadian, tokoh-tokohnya kita undang, kita rembuk. Kalau berkaitan dengan hukum, kita serahkan ke aparat untuk diproses. Biasanya persoalan selesai dan tidak berkembang,” ungkapnya.

Ruang Terbuka Hijau dan Semangat Kekeluargaan

Edi menambahkan, memperbanyak ruang terbuka hijau menjadi salah satu visi Kota Pontianak dalam mengharmonisasikan warganya. Semakin banyak ruang publik yang nyaman dan inklusif, semakin besar peluang warga untuk saling mengenal.

“Pontianak ini kita bangun dengan semangat kekeluargaan. Banyak pendatang, maka kita ingin kota ini tetap ramah, nyaman, dan terbuka,” sebutnya.

Bupati Toraja Utara juga mengapresiasi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang sudah berada di level sangat tinggi. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia yang sukses hanya bisa tercapai jika stabilitas daerah terjaga.

"Tidak ada daerah yang bisa dibangun dengan baik kalau kerukunan dan keharmonisan umat beragama serta masyarakatnya tidak terjalin," ucapnya.

Tantangan Ibu Kota Provinsi

Edi mengakui menjaga harmoni kota bukan pekerjaan mudah. Sebagai ibu kota provinsi yang terbuka dan heterogen, Pontianak menghadapi tantangan dari ketertiban umum, pedagang kaki lima, pengamen, narkoba, hingga mobilitas penduduk di pelabuhan.

Kunci utama, kata Edi, adalah komunikasi. Pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, organisasi adat, komunitas, dan warga harus terus membangun komunikasi.

“Yang paling penting adalah komunikasi. Kalau ada masalah, kita mediasi, kita carikan solusi. Dengan saling mengenal dan berinteraksi, warga bisa lebih toleran dan menerima perbedaan,” pungkasnya.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: kalbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top