SINTANG — Pembentukan Forum DAS ini merupakan respons langsung terhadap kondisi geografis Sintang yang berada di pertemuan dua sungai besar, yaitu Kapuas dan Melawi. Setiap tahun, intensitas hujan tinggi kerap menyebabkan luapan sungai yang merendam permukiman warga di belasan kecamatan.
Selama bertahun-tahun, banjir di Sintang bukan hanya soal volume air, tapi juga dampak kerusakan lingkungan di bagian hulu. Alih fungsi lahan dan sedimentasi sungai memperparah daya tampung air saat debit naik.
Forum ini akan mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat. Tujuannya menyatukan data dan rekomendasi agar kebijakan pengelolaan sungai tidak berjalan sendiri-sendiri antardinas.
Banjir tahun lalu tercatat merendam lebih dari 3.000 rumah di 12 kecamatan. Aktivitas ekonomi lumpuh total selama beberapa pekan. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk rusaknya infrastruktur desa dan lahan pertanian.
Pemkab Sintang menilai pendekatan parsial seperti normalisasi sungai saja tidak cukup. Forum DAS diharapkan bisa merancang solusi dari hulu ke hilir secara terpadu.
Forum ini akan memetakan titik-titik kritis daerah aliran sungai, mulai dari kawasan resapan air yang rusak hingga lokasi sedimentasi parah. Hasil pemetaan akan menjadi dasar penyusunan program prioritas, termasuk rehabilitasi hutan di wilayah hulu.
Selain itu, forum juga akan mengawal pelaksanaan aturan tata ruang agar pembangunan di bantaran sungai tidak memperlebar risiko banjir. Partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai juga menjadi agenda utama.
Pj Bupati Sintang menyebut bahwa persoalan banjir tidak bisa diselesaikan oleh satu dinas saja. "Forum DAS ini menjadi jembatan antara perencanaan dan aksi di lapangan. Semua pihak harus duduk bersama," ujarnya dalam keterangan resmi.
Ke depan, forum akan menggelar rapat koordinasi secara berkala. Target awal adalah menyusun peta jalan pengelolaan DAS selama lima tahun ke depan, yang langsung terintegrasi dengan rencana pembangunan daerah.