PONTIANAK — Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat merilis data inflasi terbaru untuk periode Mei 2026. Angka inflasi tahunan tercatat sebesar 3,29 persen, dengan emas batangan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap laju kenaikan harga barang dan jasa di provinsi tersebut.
Berdasarkan rilis BPS Kalbar, tiga kelompok komoditas memberikan andil dominan terhadap inflasi Mei 2026. Emas batangan menempati posisi pertama sebagai penyumbang inflasi terbesar, diikuti oleh kenaikan harga beras dan tarif LPG nonsubsidi yang mulai berlaku pada periode yang sama.
Kenaikan harga emas batangan sejalan dengan tren harga logam mulia di pasar global yang masih menunjukkan penguatan. Sementara itu, harga beras di tingkat konsumen di Kalimantan Barat mengalami tekanan akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi lokal.
Kenaikan tarif LPG nonsubsidi turut mendorong inflasi di sektor pengeluaran rumah tangga. BPS Kalbar mencatat bahwa penyesuaian harga elpiji tabung 12 kilogram dan ukuran lainnya memberikan tekanan pada indeks harga konsumen, terutama di wilayah perkotaan seperti Pontianak dan Singkawang.
Kenaikan harga LPG nonsubsidi ini memengaruhi biaya operasional usaha mikro dan kecil, terutama warung makan dan pedagang kaki lima yang masih bergantung pada bahan bakar tersebut.
BPS Kalbar belum merilis proyeksi resmi untuk Juni 2026. Namun, tren kenaikan harga emas dan fluktuasi harga pangan diperkirakan masih akan menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalbar diharapkan dapat mengantisipasi dampak lanjutan dari kenaikan harga komoditas ini terhadap daya beli masyarakat.