PONTIANAK — Riset terbaru dari Universitas Andalas (UNAND) mengungkap kombinasi tiga tanaman lokal asal Kalimantan Barat yang diklaim mampu melawan diabetes dan hipertensi sekaligus. Temuan ini menjadi angin segar bagi pengembangan obat herbal berbasis kearifan lokal di Indonesia.
Ketiga tanaman tersebut merupakan spesies yang umum ditemukan di hutan dan pekarangan warga Kalbar. Peneliti UNAND melakukan serangkaian uji laboratorium untuk membuktikan khasiat kombinasi herbal ini terhadap dua penyakit degeneratif yang banyak diderita masyarakat.
Meski detail nama spesifik ketiga tanaman belum disebutkan secara terbuka, riset ini menyoroti potensi besar tanaman obat asli Dayak yang selama ini digunakan secara turun-temurun. Masyarakat adat di Kalbar kerap memanfaatkan tumbuhan liar sebagai ramuan tradisional.
Para peneliti mengekstraksi senyawa aktif dari masing-masing tanaman, lalu menguji kombinasinya dalam formula tertentu. Hasilnya menunjukkan aktivitas antihiperglikemik dan antihipertensi yang signifikan pada dosis tertentu.
Yang membedakan temuan ini adalah pendekatan kombinasinya. Alih-alih meneliti satu tanaman secara terpisah, UNAND justru meracik tiga jenis tanaman lokal dalam satu formula. Tujuannya meniru cara kerja herbal tradisional yang biasanya menggunakan campuran beberapa bahan.
“Kombinasi ini bekerja secara sinergis. Satu tanaman menurunkan gula darah, yang lain melebarkan pembuluh darah, dan satunya lagi memperkuat sistem imun,” tulis tim peneliti dalam laporan awal riset tersebut.
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan industri obat herbal di Kalimantan Barat. Selama ini, tanaman obat lokal kerap diabaikan dan dianggap gulma. Riset UNAND membuktikan bahwa kekayaan hayati daerah memiliki nilai medis yang setara dengan obat modern.
Pemerintah daerah diharapkan segera merespons temuan ini dengan memfasilitasi riset lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia. Jika lolos, kombinasi herbal ini bisa diproduksi massal dan menjadi alternatif pengobatan yang lebih terjangkau bagi warga.
Riset ini masih dalam tahap awal dan membutuhkan pendanaan lebih lanjut untuk uji praklinis dan klinis. Namun, para peneliti optimistis kombinasi herbal ini bisa menjadi solusi bagi jutaan penderita diabetes dan hipertensi di Indonesia, khususnya di Kalbar.
Masyarakat diimbau tetap berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi ramuan herbal apa pun. Temuan ini belum menjadi rekomendasi medis resmi hingga seluruh tahap uji selesai dan mendapatkan izin edar dari BPOM.