PONTIANAK — Pembukaan Pertemuan Keluarga Sinodal Nasional (PKSN) XIII 2026 berlangsung di Pontianak dengan nuansa budaya Dayak yang kental. Gereja Katolik mengangkat isu komunikasi humanis sebagai tema utama, berhadapan dengan tantangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai mulai menggerus relasi sosial antarmanusia.
Acara ini menjadi forum bagi para pemuka agama, aktivis, dan umat Katolik dari berbagai daerah untuk membahas bagaimana menjaga komunikasi yang menyatukan di era digital. Kehadiran AI disebut sebagai pisau bermata dua; di satu sisi memudahkan, di sisi lain berpotensi memisahkan umat dari interaksi nyata.
Para tokoh Gereja menilai bahwa komunikasi yang autentik dan penuh empati semakin langka di tengah gempuran teknologi. AI, meskipun membantu efisiensi, tidak bisa menggantikan sentuhan manusiawi dalam membangun relasi komunitas.
“Kita perlu kembali pada esensi komunikasi yang membangun persaudaraan, bukan sekadar menyampaikan informasi,” demikian penekanan yang mengemuka dalam forum tersebut. Nuansa budaya Dayak yang dihadirkan dalam pembukaan menjadi simbol bahwa kearifan lokal tetap relevan sebagai fondasi komunikasi yang menyatukan.
PKSN XIII 2026 tidak hanya menjadi ajang seremoni. Pertemuan ini dirancang sebagai ruang refleksi bersama bagi umat Katolik di Kalimantan Barat untuk merumuskan langkah konkret. Tantangan AI menjadi salah satu topik diskusi paling hangat karena dampaknya sudah dirasakan di tingkat akar rumput.
Peserta diajak untuk tidak menolak teknologi, tetapi menggunakannya secara kritis tanpa kehilangan jati diri sebagai makhluk sosial. Gereja mendorong umat untuk aktif berkomunikasi secara langsung, terutama dalam lingkup keluarga dan lingkungan sekitar.
Pemilihan nuansa budaya Dayak dalam pembukaan PKSN XIII dinilai strategis. Budaya Dayak yang kaya akan tradisi gotong royong dan musyawarah menjadi pengingat bahwa komunikasi yang sehat adalah yang melibatkan hati dan kebersamaan.
Acara ini diharapkan mampu melahirkan generasi umat yang melek teknologi namun tetap humanis. Gereja Katolik di Pontianak berkomitmen menjadikan momen ini sebagai titik awal penguatan relasi sosial di tengah arus digitalisasi yang tak terhindarkan.