KALIMANTAN BARAT — Selama lebih dari dua dekade, Google Search bekerja seperti perpustakaan raksasa: pengguna datang, bertanya, lalu pergi. Kini, pendekatan itu dijungkirbalikkan. Agen informasi baru Google dirancang untuk terus menyaring data, membandingkan perspektif, dan menyusun ringkasan—tanpa perlu diminta berulang kali.
Bayangkan seorang pengguna yang ingin memantau harga saham Tesla, rencana perjalanan ke Jepang, dan jadwal pertandingan tim sepak bola favorit secara bersamaan. Dengan fitur baru ini, ia cukup membuat satu prompt di AI Mode, dan agen akan bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Secara konsep, fitur ini mirip dengan Google Alerts yang lahir pada 2003, namun kecerdasannya jauh di atas. Jika Google Alerts hanya mengirimkan tautan ketika kata kunci muncul, agen AI baru bisa menjelaskan mengapa suatu berita penting, membandingkan sudut pandang dari berbagai sumber, hingga menyusun laporan ringkas tentang laporan keuangan perusahaan.
Contoh yang diberikan Google: seorang pengguna bisa mengetik prompt “Beri tahu saya jika ada tiket film ‘The Mandalorian and Grogu’ yang tersedia di bioskop dekat rumah.” Agen akan memonitor jadwal tayang, mendeteksi perubahan ketersediaan, dan langsung mengirim notifikasi ke ponsel pengguna.
Semua topik yang dilacak akan tersimpan di riwayat AI Mode. Dari sana, pengguna bisa mengedit, menyempurnakan instruksi, atau mematikan agen kapan saja.
Google akan mulai menggulirkan fitur agen informasi ini pada musim panas 2026. Namun, tidak semua pengguna bisa langsung mencobanya. Tahap awal hanya terbuka untuk pelanggan Google AI Pro dan Ultra di Amerika Serikat. Pasar global, termasuk Indonesia, kemungkinan baru akan mendapat akses pada gelombang berikutnya.
Peluncuran ini berbarengan dengan pembaruan besar antarmuka Search yang disebut Google sebagai perubahan terbesar dalam 25 tahun. Kotak pencarian akan didesain ulang untuk mendukung pertanyaan yang lebih panjang dan alami, serta sistem saran pencarian bertenaga AI yang melampaui kemampuan autocomplete konvensional.
Bagi pengguna di Indonesia, fitur ini berpotensi mengubah kebiasaan mencari informasi secara drastis. Agen yang bisa melacak tren lowongan kerja, fluktuasi harga tiket pesawat ke kampung halaman saat Lebaran, atau perkembangan kebijakan pemerintah akan sangat membantu.
Namun, ada catatan penting. Google belum menyebutkan kapan dukungan bahasa Indonesia akan tersedia untuk fitur ini. Selain itu, akses awal yang terbatas pada pelanggan berbayar di AS menimbulkan pertanyaan: apakah agen AI ini akan menjadi fitur premium di pasar negara berkembang, atau akan gratis seperti Google Alerts?
Yang jelas, langkah Google ini menandai era baru di mana mesin pencari tidak lagi menunggu perintah, tetapi mengambil inisiatif sendiri. Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh kita siap membiarkan AI mengatur apa yang perlu kita ketahui?