PONTIANAK — Polemik penilaian final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat berakhir dengan sikap tak terduga. Dua sekolah finalis, SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, secara resmi menolak pelaksanaan final ulang yang diputuskan MPR RI. Keduanya memilih untuk mengedepankan nilai persatuan, sportivitas, dan pendidikan.
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, mengaku bangga dengan respons kedua sekolah. Menurutnya, sikap tersebut justru mencerminkan nilai-nilai Empat Pilar yang selama ini disosialisasikan lewat ajang lomba.
"Saya menanggapi respons kedua SMA ini dengan sangat bangga. Karena sebenarnya mereka telah mengimplementasikan apa yang mereka dapat dalam pelajaran 4 Pilar ini," ujar Abraham kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Ia menambahkan bahwa para siswa mengutamakan persatuan, mencari keadilan, dan menunjukkan toleransi tinggi lewat pernyataan demokratis. "Menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan," imbuh dia.
SMAN 1 Pontianak menjadi sekolah pertama yang menyatakan sikap resmi pada Kamis (14/5/2026). Dalam pernyataan yang ditandatangani Kepala Sekolah Indang Maryati, pihak sekolah menegaskan bahwa protes yang diajukan sebelumnya tidak bertujuan menjatuhkan kredibilitas lembaga atau panitia.
"SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan hanya untuk memperoleh kejelasan terhadap poin-poin yang dipersoalkan," tulis Indang.
Sekolah juga menyatakan tetap menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan. Mereka memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar di tingkat nasional. Permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi turut disampaikan, disertai ajakan menyelesaikan persoalan dengan semangat kebersamaan.
Sehari berselang, Jumat (15/5/2026), giliran SMAN 1 Sambas menyampaikan sikap resmi melalui pernyataan tertulis di media sosial sekolah. Mereka juga menolak final ulang dan memilih fokus pada persiapan lomba nasional.
Abraham Liyanto menjelaskan, LCC Empat Pilar dirancang bukan sekadar kompetisi. Metode lomba dipilih karena lebih menarik dibandingkan sosialisasi biasa. Tujuannya menyiapkan generasi muda memahami kehidupan berbangsa dan bernegara, meningkatkan wawasan kebangsaan, dan menumbuhkan budaya berpikir kritis.
"Membentuk karakter pelajar yang nasionalis, dan berintegritas. Menumbuhkan budaya berpikir kritis, kerja sama tim dan sportivitas dalam berlomba," kata Abraham.