Festival Keling Kumang 2026 di Sekadau Jadi Panggung Solidaridad Dorong Sawit Berkelanjutan dan Perhutanan Sosial

Penulis: Tedy Rustandi  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 12:11:41 WIB
Solidaridad tampilkan pameran pengelolaan sawit berkelanjutan di Festival Keling Kumang 2026 Sekadau.

SEKADAU — Solidaridad mengambil peran strategis di tengah perhelatan akbar Keling Kumang Festival (KKF) IV dan Iban Summit III Tahun 2026 di Kabupaten Sekadau. Organisasi yang fokus pada pelestarian ekologi ini menghadirkan pameran miniatur pengelolaan lahan berbasis pertanian regeneratif (Regenagri) sekaligus memperkenalkan pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan kepada masyarakat adat Ibanik dari Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia.

Praktik Sawit Berkelanjutan Berpadu dengan Nilai Adat Dayak

Dalam festival yang berlangsung di Kompleks Taman Kelampiau, Dusun Tapang Sambas, Desa Tapang Semadak, Kecamatan Sekadau Hilir itu, Solidaridad mengedukasi pengunjung mengenai tata kelola hutan yang dirancang memberikan nilai tambah ekonomi tanpa mengorbankan ekosistem. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan prinsip masyarakat Dayak yang memegang teguh kelestarian alam sebagai nilai luhur budaya lokal.

Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, menekankan pentingnya keseimbangan antara ekonomi dan budaya. “Harapannya, semakin banyak pihak yang peduli pada kelestarian alam. Tidak hanya fokus mengejar ekonomi, tetapi juga menjaga nilai-nilai sosial budaya dan menjalankan praktik pertanian serta perkebunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pembinaan untuk Petani Swadaya Lewat Credit Union

Solidaridad tidak berhenti pada edukasi lewat pameran. Organisasi ini juga memberikan pembinaan kepada Credit Union (CU) Keling Kumang, koperasi yang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat etnis Dayak di Sekadau. Sinergi ini dirancang untuk memastikan praktik pertanian ramah lingkungan terintegrasi langsung dengan penguatan kapasitas petani sawit swadaya di lapangan.

Melalui momentum festival, Solidaridad memaparkan berbagai program pendampingan yang bisa diakses langsung oleh para petani. Ini termasuk skema simpan pinjam dan kredit usaha mikro dari CU Keling Kumang yang dinilai sangat membantu memperkuat ekonomi rumah tangga anggota.

Perhutanan Sosial: Jalan Tengah Ekonomi dan Ekologi

Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah program Perhutanan Sosial (PS). Program ini dirancang agar masyarakat di sekitar kawasan hutan bisa mendapatkan nilai tambah ekonomi tanpa harus merusak hutan. Tata kelola ini juga memperhatikan budaya lokal yang sudah mengakar di komunitas Dayak setempat.

CU Keling Kumang sendiri, selaku inisiator festival, konsisten melestarikan khazanah adat, seni, budaya, hingga kuliner untuk diperkenalkan kepada generasi muda. Lembaga keuangan yang dinilai sehat ini bahkan memiliki penghargaan CSR terbaik, dengan menyalurkan donasi pendidikan berupa beasiswa SMA dan bantuan UMKM.

Perempuan Dayak Iban dan Ritual Tenun Pua Kumbu

Roh dari keseluruhan festival ini adalah masyarakat Dayak Iban yang akan menampilkan jejak peradaban dan interaksi sosial-budaya lintas batas yang harmonis. Acara ini juga secara khusus menyoroti peran penting perempuan Dayak Iban dalam mempertahankan adat, salah satunya melalui ritual tenun ikat Pua Kumbu. Kain tradisional itu tidak hanya menjadi identitas budaya utama, tetapi juga medium yang menghubungkan tradisi masyarakat di Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top