KALIMANTAN BARAT — Hasil ini tak mengubah posisi Barcelona di puncak klasemen, namun secara matematis mengakhiri perburuan rekor 100 poin yang sempat diidamkan. Anak asuh Hansi Flick harus puas dengan maksimal 97 poin dari sisa dua pertandingan. Di sisi lain, kemenangan ini bagaikan oksigen bagi Alaves yang tengah berjuang mati-matian untuk bertahan di kasta tertinggi.
Flick melakukan banyak perubahan pada starting XI, mengistirahatkan sejumlah pilar utama dan memberikan menit bermain kepada pemain pelapis serta muda. Akibatnya, lini serang Barcelona tumpul. Marcus Rashford hanya memiliki beberapa setengah peluang di awal laga, namun setelah itu serangan Blaugrana mandek.
Alaves bermain dengan intensitas tinggi dan disiplin. Mereka sadar betul laga ini adalah final bagi mereka. Alih-alih menunggu, tim tuan rumah justru beberapa kali merepotkan pertahanan Barcelona lewat skema bola mati dan umpan silang ke kotak penalti. Strategi itu berbuah manis saat injury time babak pertama.
Kemelut di depan gawang Barcelona terjadi setelah sepakan pojok. Bola liar tak mampu dibersihkan lini belakang tim tamu, dan Ibrahim Diabate dengan sigap menyambar bola untuk menjebol gawang. Gol yang terjadi pada menit 45+3 itu menjadi pukulan telak bagi mentalitas pemain Barcelona yang tampil tanpa ritme.
Memasuki babak kedua, skenario tetap sama. Barcelona mendominasi penguasaan bola, tetapi tak mampu menciptakan peluang emas. Alaves bertahan rapat dan rapi, siap mengamankan keunggulan tipis mereka. Pertandingan diwarnai banyak pelanggaran dan beberapa kartu, namun tak ada kualitas permainan yang berarti hingga peluit panjang berbunyi.
Di balik hasil negatif, ada satu nama yang layak mendapat sorotan positif. Bek berusia 21 tahun, Alvaro Cortes, tampil solid di posisi bek tengah. Penampilannya yang tenang dan tanpa kesalahan berarti menjadi modal berharga bagi Flick untuk musim depan. Bagi Alaves, tiga poin ini terasa seperti kemenangan hidup mati di sisa musim yang menegangkan.