Polymarket mencatat volume transaksi bulanan mencapai US$25,7 miliar atau sekitar Rp411,2 triliun pada Maret 2026 seiring pergeseran tren pasar prediksi menjadi platform pemantau berita. Fenomena ini didorong oleh partisipasi masif investor ritel global yang mulai beralih dari spekulasi aset kripto ke isu politik serta ekonomi riil.
Pasar prediksi kini resmi menanggalkan label "kasino" dan bertransformasi menjadi infrastruktur informasi utama bagi publik. Laporan terbaru dari Bitget Wallet dan Polymarket mengungkapkan bahwa industri ini tengah berevolusi menjadi sektor bernilai US$240 miliar (sekitar Rp3.840 triliun) yang digerakkan oleh aktivitas pengguna ritel secara harian.
Volume perdagangan di Polymarket melonjak drastis dari US$1,2 miliar pada 2025 menjadi lebih dari US$20 miliar pada awal 2026. Pertumbuhan ini selaras dengan jumlah dompet aktif yang meningkat lebih dari tiga kali lipat hanya dalam waktu enam bulan. Data ini menandakan bahwa pasar prediksi bukan lagi sekadar tempat bertaruh untuk acara besar sesaat.
Laporan yang berbasis pada aktivitas 1,29 juta dompet digital selama kuartal pertama 2026 menunjukkan perubahan perilaku pengguna yang signifikan. Alih-alih memasang taruhan besar pada satu peristiwa, pengguna kini lebih sering melakukan transaksi dalam nominal kecil pada berbagai kategori pasar.
"Pasar prediksi kini tidak lagi sekadar soal modal besar, melainkan tentang tindakan yang konsisten dan berulang," ujar Alvin Kan, Chief Operating Officer Bitget Wallet. Ia menambahkan bahwa pasar ini berskala besar karena frekuensi interaksi pengguna yang tinggi setiap harinya, bukan karena ukuran transaksi individual yang membengkak.
Aset kripto tetap menjadi titik masuk utama bagi pengguna baru dengan porsi mencapai 40% dari total aktivitas awal. Karakteristik perdagangan kripto yang berjalan 24 jam nonstop membuat pengguna terbiasa dengan pergerakan harga yang cepat sebelum akhirnya merambah ke pasar peristiwa dunia nyata.
Elden Mirzoian, Director of Growth and Partnerships Polymarket, menjelaskan bahwa distribusi platform kini menjadi sama pentingnya dengan pasar itu sendiri. Menurutnya, terjadi pergeseran dari perdagangan episodik yang hanya ramai saat pemilu menjadi keterlibatan yang berkelanjutan sepanjang waktu.
Harga yang terbentuk di pasar prediksi kini mulai digunakan sebagai referensi data real-time oleh media dan analis keuangan. Angka-angka tersebut dianggap mampu mencerminkan ekspektasi publik terhadap tren makroekonomi, politik, hingga budaya populer secara lebih akurat dibandingkan survei tradisional.
Di tengah lonjakan pasar prediksi, aset kripto utama seperti Bitcoin juga menunjukkan ketangguhan. Bitcoin berhasil pulih dari level US$75.500 dan kembali menembus angka US$78.000 (sekitar Rp1,24 miliar) pada perdagangan akhir pekan di pasar Asia.
Sentimen positif ini didorong oleh kompromi Senat Amerika Serikat terkait regulasi stablecoin yang menghilangkan hambatan struktural pada legislasi pasar kripto. Kondisi ini memperkuat kepercayaan investor ritel untuk tetap aktif di ekosistem blockchain, termasuk dalam memanfaatkan platform prediksi seperti Polymarket.
Melihat tren pertumbuhan yang ada, para analis memproyeksikan volume industri ini dapat menyentuh angka psikologis US$1 triliun dalam jangka panjang. Fokus pengembangan kini beralih pada kemudahan akses melalui dompet digital yang memungkinkan pengguna memantau probabilitas peristiwa dunia secara real-time dari ponsel mereka.