KALIMANTAN BARAT — Developer Kevin Noki merilis ADHD One, ponsel retro yang hanya berfungsi untuk panggilan suara tanpa aplikasi, internet, atau notifikasi media sosial. Perangkat ini dijual seharga €29,99 (sekitar Rp600 ribu) dalam bentuk file STL dan firmware, bukan unit jadi. Konsep anti-distraksi ekstrem ini menyasar pengguna yang ingin lepas dari gangguan digital tanpa sepenuhnya meninggalkan fungsi telepon.
ADHD One merupakan proyek personal Kevin Noki yang mengangkat konsep anti-gangguan hingga level ekstrem. Nama perangkat ini adalah singkatan dari Anti Distraction Handset Device, dan sesuai namanya, fungsi utamanya cuma satu: melakukan panggilan suara. Tidak ada aplikasi, tidak ada koneksi internet, dan tidak ada notifikasi media sosial yang muncul setiap lima menit.
Tampilan Retro ala Motorola DynaTAC
Dari sisi desain, ADHD One mengusung bentuk jadul yang minimalis. Sekilas, tampilannya mengingatkan pada Motorola DynaTAC 8000X, ponsel ikonik dari era awal telepon seluler. Pendekatan ini sengaja dipilih untuk mempertegas posisi perangkat sebagai alat komunikasi dasar, bukan gadget serba bisa.
Fungsinya pun dibuat sesederhana mungkin. ADHD One bisa menyimpan nomor kontak, memasukkan nomor telepon secara manual, serta menerima atau menolak panggilan. Ada layar OLED kecil untuk menampilkan informasi panggilan masuk dan melihat kontak yang tersimpan.
Tanpa Internet dan Media Sosial
ADHD One memang dirancang supaya penggunanya tidak terdistraksi. Tidak ada notifikasi WhatsApp yang muncul saat sedang fokus kerja, atau godaan membuka media sosial setiap kali bosan. Perangkat ini juga dibekali speaker, mikrofon, dan baterai internal yang bisa diisi ulang lewat port USB-C di bagian bawah.
Meski begitu, ada satu keterbatasan yang cukup absurd. ADHD One versi pertama ternyata tidak punya modem untuk terhubung ke jaringan seluler. Pengguna harus menghubungkannya ke smartphone melalui Bluetooth agar bisa menelepon.
Artinya, smartphone tetap harus berada dalam jangkauan Bluetooth selama ADHD One digunakan. Kalau mau benar-benar bebas dari gangguan, smartphone mesti ditaruh agak jauh, tapi jangan terlalu jauh karena koneksi bisa terputus. Perangkat ini lebih cocok dipakai di rumah atau kantor, bukan untuk menemani perjalanan.
Kevin Noki kabarnya sudah menyiapkan versi berikutnya yang dilengkapi modem 4G. Dengan begitu, perangkat tersebut nantinya bisa punya nomor telepon sendiri dan terhubung langsung ke jaringan seluler tanpa bergantung pada smartphone.
Harga Rp600 Ribuan, tapi Harus Dirakit Sendiri
ADHD One dibanderol €29,99 atau sekitar Rp600 ribuan. Harga tersebut bukan untuk satu unit ponsel jadi, melainkan untuk file STL yang bisa digunakan mencetak bodi dengan printer 3D, daftar komponen yang dibutuhkan, dan firmware-nya.
Komponen elektroniknya harus dibeli secara terpisah. Setelah membayar, pengguna masih harus mencetak bodi, membeli komponen, lalu merakitnya sendiri. Kalau tidak punya printer 3D, pengguna perlu mencari tempat cetak.
ADHD One jelas bukan ponsel untuk semua orang. Konsepnya menarik buat mereka yang ingin mengurangi distraksi digital, tetapi proses pembuatannya menuntut usaha ekstra. Ironisnya, niat menghindari notifikasi smartphone justru berujung pada proyek merakit perangkat baru.