KETAPANG — Evakuasi terbaru berlangsung pada 16 Oktober 2026, ketika tim menyelamatkan seekor orang utan remaja betina bernama Lusi dari kawasan HCV perkebunan PT KALE di Desa Laman Satong. Lusi ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah hutan yang telah hangus. Sebelumnya, pada 10 Oktober 2026, tim menyelamatkan Riri serta pasangan induk dan anak, Mama Rian dan Rian.
Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Sementara Mama Rian dan Rian dievakuasi dari kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan PT KALE, di kawasan yang juga telah terbakar.
Lusi Ditemukan Kurus dan Stres di Hutan yang Hangus
CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, menyebut Lusi berada dalam kondisi memprihatinkan saat ditemukan. "Orang utan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini," ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).
Setelah dievakuasi menggunakan obat bius, Lusi menjalani pemeriksaan medis di lapangan. Tim menemukan luka gores dan luka terbuka cukup dalam pada bagian punggung, bibir, dan anus. Luka tersebut diduga akibat gigitan satwa, kemungkinan anjing.
Lusi juga mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Adapun Riri, orang utan betina berusia sekitar 4-6 tahun, ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya. "Orang utan betina berusia sekitar 4-6 tahun itu ditemukan tanpa tanda-tanda keberadaan induknya," kata Karmele.
27 Orang Utan Jalani Perawatan Lanjutan di Pusat Rehabilitasi
Dari rangkaian penyelamatan sebelumnya, YIARI mencatat 27 orang utan yang dievakuasi dari area PT KALE dan sekitarnya mendapat perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi. Kondisi kesehatan satwa-satwa itu dinilai kurang baik.
Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI masih memantau orang utan yang diduga bertahan di kawasan HCV. Laporan masyarakat menyebut beberapa individu memasuki permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga. Kondisi itu berpotensi memicu konflik manusia dan orang utan, terutama saat satwa kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.
"Penyelamatan lanjutan masih diperlukan karena sejumlah orang utan diduga masih berada di kawasan HCV yang terbakar. Di beberapa titik, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap," kata Karmele.
Lebih dari 90 Persen Kawasan HCV PT KALE Terbakar
Analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE hangus terbakar. Publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan kawasan tersebut menjadi habitat sekitar 150 individu orang utan Kalimantan, dengan kepadatan rata-rata sekitar 5,49 individu per kilometer persegi.
Kekhawatiran terhadap keselamatan satwa meningkat setelah tim gabungan mengevakuasi temuan yang diduga tengkorak orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari kawasan HCV PT KALE pada 8 Oktober 2026. Temuan itu masih menjalani pemeriksaan forensik untuk memastikan identitas spesies, penyebab, dan perkiraan waktu kematian.
"Kami berharap perusahaan berkomitmen melakukan restorasi kawasan yang terbakar," harap Karmele.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan pentingnya menjaga kawasan HCV sebagai habitat dan perlindungan keanekaragaman hayati. "Area HCV yang terdampak karhutla sepatutnya segera direstorasi untuk mengembalikan fungsi ekologis dan melindungi habitat satwa liar," ujar Murlan.