PONTIANAK — Proses evakuasi berlangsung sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026, mengikuti siklus kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah titik di Kalimantan Barat. BKSDA Kalbar mencatat satwa yang diselamatkan berasal dari kawasan yang tutupan hutannya hilang akibat kebakaran.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyatakan penyediaan habitat aman menjadi tantangan lanjutan setelah evakuasi. "Setidaknya sudah ada 46 orangutan yang diselamatkan dari habitat yang terbakar. Sementara penyediaan habitat aman menjadi tantangan lanjutan bagi upaya konservasi satwa dilindungi tersebut," kata Murlan di Pontianak, Minggu (11/10).
Delapan Orangutan Sehat Dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu
Delapan individu yang lolos pemeriksaan kesehatan dan observasi ditranslokasikan ke Hutan Lindung Batu Nyambu di Kabupaten Ketapang. Pemindahan itu menjadi tahap lanjutan setelah satwa dievakuasi dari habitat yang terbakar.
Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare tersebut dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis. Hutan Lindung Batu Nyambu memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella-Schwaner.
Direktur Operasional YIARI Argitoeranting menyebut pemilihan lokasi pelepasliaran mempertimbangkan ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lain. Survei pada 2023 menunjukkan kawasan itu merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.
"Translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa," ujar Argitoeranting.
Mama Lifa hingga Naufal-Nopan: Kisah Evakuasi dari Perkebunan Terisolasi
Kebakaran menghilangkan tutupan hutan dan memutus keterhubungan antarkawasan, sehingga satwa terisolasi di perkebunan dengan sumber pakan dan ruang jelajah terbatas. Sebagian orangutan bertahan di area perkebunan yang hanya menyisakan pepohonan.
Mama Lifa dan anaknya, Lifa, ditemukan terisolasi di antara pohon akasia pada lahan sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang. Sementara Mama Man dan anaknya, Man, dievakuasi dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2026 setelah kebakaran mendekati habitat mereka.
Empat orangutan lain, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua jantan remaja Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kayong Utara, sehari setelahnya.
Sejumlah Satwa Masih Dirawat akibat Luka Bakar dan Anemia Berat
CEO YIARI Karmele Llano Sánchez menambahkan sejumlah orangutan terdampak karhutla masih menjalani perawatan intensif. Mereka mengalami luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lain.
Satwa-satwa tersebut membutuhkan waktu untuk pulih sebelum dapat dipindahkan ke habitat alami yang aman dan sesuai. Proses pemulihan menjadi penentu kapan mereka bisa menyusul delapan orangutan yang telah lebih dulu ditranslokasikan.
Patroli dan Penanaman Pohon Jadi Kunci Keberlangsungan Satwa
Kepala KPH Ketapang Utara Ya' Suharnoto berharap translokasi diikuti patroli pengamanan kawasan secara rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan.
"Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidup orangutan setelah dilepasliarkan dan menjaga habitatnya dari ancaman berikutnya," kata Ya' Suharnoto.
Murlan menegaskan upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada evakuasi dan translokasi. "Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas," kata Murlan.