KALIMANTAN BARAT — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia menembus 38,2 derajat Celsius pada 12-13 Oktober 2026 akibat kombinasi El Nino sangat kuat dan IOD Positif. Anomali suhu muka laut di Nino3.4 mencapai positif 3,33 derajat Celsius, sementara indeks ENSO berada di angka positif 3,08. Kondisi kering ini meningkatkan kerentanan kebakaran hutan dan lahan di hampir seluruh wilayah.
BMKG mengidentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh Indonesia selama periode kering Oktober 2026. Sebaran terbanyak berada di Sumatera dengan 505 titik, disusul Kalimantan 346 titik, serta Papua dan Maluku 330 titik.
Sulawesi terpantau memiliki 66 titik panas, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik. Data tersebut dirilis BMKG melalui laman resminya sebagai bagian dari pemantauan kondisi atmosfer nasional.
Penurunan curah hujan dipicu kombinasi fenomena El Nino dan IOD Positif yang terjadi bersamaan. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat pada angka positif 0,703, memperkuat kondisi kering di sebagian besar wilayah.
Tutupan awan yang minim membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal. Alhasil, suhu udara di beberapa wilayah melampaui 37 derajat Celsius, bahkan menembus 38 derajat di Lampung.
Lima wilayah mencatat suhu tertinggi sepanjang periode pengamatan BMKG. Lampung menjadi yang terpanas dengan selisih cukup jelas dari wilayah lain.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan kombinasi El Nino dan IOD memperparah serta memperpanjang periode kekeringan. Dampaknya, musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih mundur dari rata-rata klimatologis.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Teuku Faisal dalam konferensi pers 'Prediksi Musim Hujan' secara daring pada Selasa (22/9).
BMKG memperkirakan puncak musim hujan sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Desember, Januari, dan Februari. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut durasi musim hujan 2026/2027 lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia.
Durasi musim hujan diprediksi lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM (8,58 persen luas daratan) dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM (5,06 persen luas daratan).
Kerentanan kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di wilayah dengan periode tanpa hujan panjang. Pelaku usaha di sektor pertanian, logistik, dan energi perlu mengantisipasi gangguan operasional akibat suhu ekstrem dan keterlambatan musim hujan.
Bagi pengguna smartphone aktif, BMKG menyarankan pemantauan informasi cuaca resmi secara berkala. Aplikasi cuaca bawaan ponsel maupun kanal digital BMKG menjadi rujukan cepat sebelum beraktivitas di luar ruang.