PONTIANAK — Kegiatan bersama anak-anak PAUD sekaligus Sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) itu dihadiri Ketua Bidang I TP PKK Kalbar Donata Krisantus serta diikuti pendidik dan ratusan anak PAUD se-Kabupaten Mempawah. Erlina menilai dua hal itu sama-sama menentukan tumbuh kembang anak di usia emas.
Program bantuan biaya pendidikan bagi tenaga pendidik PAUD non-ASN disiapkan Pemprov Kalbar untuk mengangkat kualitas pengajar di jenjang paling dasar. Skema RPL memungkinkan pengalaman dan hasil pembelajaran sebelumnya diakui dalam proses pendidikan sesuai ketentuan.
Erlina meminta Pemerintah Kabupaten Mempawah, Pokja Bunda PAUD, dan jajaran terkait menyiapkan serta menginventarisasi tenaga pendidik PAUD non-ASN yang berpotensi dan memenuhi persyaratan. Ia mengingatkan agar peluang yang sudah diupayakan di tingkat provinsi tidak terbuang di tingkat kabupaten.
"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Mempawah, Pokja Bunda PAUD, dan seluruh jajaran terkait dapat mulai mempersiapkan serta menginventarisasi tenaga pendidik PAUD non-ASN yang berpotensi dan memenuhi persyaratan. Jangan sampai kesempatan yang telah kita upayakan di tingkat provinsi tidak dimanfaatkan secara optimal di tingkat kabupaten," tegasnya.
Selain kualitas pendidik, Erlina menekankan pembangunan kebiasaan baik sejak usia dini melalui penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kebiasaan itu meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.
"Ini bukan sekadar penampilan. Di baliknya ada proses pembiasaan yang sedang kita bangun kepada anak-anak sejak usia dini, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur lebih awal. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten sejak kecil akan membentuk karakter anak hingga dewasa," ungkapnya.
Anak-anak PAUD Mempawah menampilkan parade busana bermotif Awan Berarak dalam kegiatan itu. Erlina menilai kegiatan semacam ini menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mengenalkan budaya daerah kepada anak sejak dini.
"Anak-anak kita boleh menjadi generasi yang modern, tetapi jangan sampai kehilangan akar budaya dan identitas daerahnya. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar tampil percaya diri sekaligus mengenal dan mencintai budaya Kalimantan Barat," pesannya.
Pada aspek gizi, Erlina mengajak pendidik dan orang tua membiasakan pola konsumsi B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) serta memperkuat gerakan Gemarikan di lingkungan sekolah dan keluarga. Menurutnya, pengenalan ikan kepada anak tidak cukup lewat kegiatan sesaat.
Konsumsi ikan perlu dibiasakan melalui penyajian yang beragam, menarik, dan sesuai selera anak. Ia menyebut sejumlah olahan yang bisa jadi pilihan, seperti nugget ikan, bakso ikan, otak-otak, pempek, dan kreasi lainnya.
"Kita memiliki potensi perikanan yang besar. Karena itu, anak-anak kita harus dibiasakan mengonsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan sehat. Olahannya pun bisa dibuat lebih menarik, seperti nugget ikan, bakso ikan, otak-otak, pempek, dan berbagai kreasi lainnya yang disukai anak-anak," ajaknya.
Erlina menegaskan pembentukan karakter dan pemenuhan gizi anak membutuhkan dukungan pemerintah, pendidik, dan orang tua. Kebiasaan yang dibangun di sekolah perlu dilanjutkan di rumah agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Saya percaya, kalau kita serius membangun PAUD, sebenarnya kita sedang mempersiapkan masa depan daerah. Gurunya kita tingkatkan kualitasnya, gizinya kita perhatikan, kebiasaan baiknya kita bangun, budayanya kita kenalkan, dan lingkungan tumbuhnya kita jaga. Membangun generasi hebat tidak dimulai ketika anak sudah besar, tetapi sejak anak-anak berada di PAUD," pungkasnya.