Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin Sebut Everest: The Other Side Film Tersulit

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:34:01 WIB
Sutradara Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin berbicara dalam acara Deadline's Contenders London.

KALIMANTAN BARAT — Sutradara peraih Oscar Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin membeberkan tantangan produksi Everest: The Other Side dalam acara Deadline's Contenders London. Dokumenter ini mengikuti pendaki ski Jim Morrison dan Hilaree Nelson menaklukkan North Face Everest lalu menuruni lerengnya dengan ski. Hanya lima orang yang pernah mencapai puncak dari sisi utara, sementara ribuan pendaki memilih rute tenggara di Nepal.

Jim Morrison, salah satu tokoh utama dokumenter tersebut, hadir langsung di atas panggung mendampingi Chai Vasarhelyi dan Chin. Ketiganya berbicara soal proses pengambilan gambar yang berlangsung di ketinggian ekstrem dan penuh risiko.

Alasan Chin Menyebutnya Film Tersulit

Chin yang juga pendaki gunung kelas dunia menegaskan bahwa proyek ini menuntut seluruh pengalaman yang pernah ia kumpulkan sebagai pendaki sekaligus sutradara dan produser.

"I think it's pretty safe to say this is the most difficult film we've made. It really required every experience that I've had as a climber and as a director and producer," ujar Chin.

Ia menambahkan tantangan yang dihadapi sebenarnya pernah ia alami sebelumnya, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Kali ini cakupan dan skalanya berbeda.

Kru Pemanjat Bersertifikat Sinematografer

Pola kerja Free Solo kembali diterapkan dalam Everest: The Other Side. Chin menjelaskan tim harus terdiri dari pendaki kelas dunia yang sekaligus mampu bekerja sebagai sinematografer di ketinggian 28.000 hingga 29.000 kaki.

"Very similar to Free Solo, we had to have a world-class team of mountaineers and climbers first, and they had to be world-class cinematographers and be able to operate at 28,000 feet, 29,000 feet," kata Chin.

Bukan Sekadar Aksi Fisik

Chai Vasarhelyi menyebut dokumenter ini menyimpan kisah cinta mendalam di balik aksi pendakian. Film ini juga menjadi perenungan serius soal pengambilan risiko.

"Risk was always part of this story, and then it turned into a more serious meditation on risk, which I think this film more than any other film I've made… really dives into the ethical implications," jelasnya.

Morrison dan Batas Mortalitas

Ditanya alasan terus mendorong diri ke batas kemampuan, Morrison menjawab dengan lugas. Ia mengaku tidak tahu cara berhenti melakukannya.

"Why? Because I don't know how not to do it. Yes, this film is certainly a meditation of mortality to a degree. It's about a lot of things, but it's something I'm starting to examine," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa berada di tepi bahaya membuat seseorang berhadapan dengan mortalitas secara konsisten. Bukan selalu situasi hidup dan mati, tetapi penilaian risiko terus dilakukan.

Jejak Karya Pasangan Sutradara

Everest: The Other Side melanjutkan deret karya Chai Vasarhelyi dan Chin yang mengangkat manusia di batas ketahanan fisik. Sebelumnya ada Free Solo yang memenangi Oscar dan Bafta 2018, The Rescue, serta film fiksi Nyad tentang perenang jarak jauh Diana Nyad.

Dokumenter ini menjadi penanda bahwa pasangan sutradara tersebut konsisten menyorot kisah manusia yang menantang bahaya, kali ini di medan paling ekstrem di dunia.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top