JAKARTA — Sebanyak 384 hektare lahan terbakar di Kalimantan Barat pada periode 17 hingga 21 September 2026. Seluruh pemadaman di provinsi itu dikerjakan Satgas Darat karena visibilitas rendah membuat helikopter dan alutsista udara lain tidak bisa diterbangkan.
Berton Panjaitan menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026). Ia memaparkan perkembangan penanganan karhutla di sejumlah provinsi selama lima hari tersebut.
Jarak pandang di Kalimantan Barat tercatat di bawah 1.000 meter. Kondisi itu membuat personel yang bersiaga tidak berani mengoperasikan alutsista yang sudah ditempatkan di sana.
"Ini artinya bahwa memang di Kalimantan Barat tidak ada operasi udara, karena mengingat visibility atau jarak pandang yang sangat rendah di sana," jelas Berton.
Kendala serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah. Operasi udara di provinsi itu hanya berhasil memadamkan 4 hektare, dengan sisa 209 hektare yang belum tertangani.
"Bukan tidak ada helikopter atau alutsista yang kita deploy di sana, tetapi memang sangat terbatas jarak pandang," ujarnya.
Dari 1.212 hektare lahan yang terbakar di enam provinsi Kalimantan, sekitar 1.002 hektare sudah berhasil dipadamkan. Angka itu dihimpun BNPB per Selasa.
"Apabila kita lihat data per hari ini (Selasa), bahwa di Kalimantan, di enam provinsi ada 1.212 hektare yang terbakar, dan dapat dipadamkan itu sekitar 1.002 hektare," kata Berton.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan area karhutla terluas yang berhasil dipadamkan, yakni 2.233 hektare lebih. Setelahnya ada Kalimantan Tengah 634 hektare, Kalimantan Selatan 479 hektare, Jambi 458 hektare, Kalimantan Barat 384 hektare, dan Riau 275 hektare.
Hampir seluruh pemadaman di Kalimantan dikerjakan personel darat. Metode ini jadi pilihan terakhir ketika kabut asap menutup ruang terbang.
BNPB belum merinci berapa personel darat yang dikerahkan di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah. Data luas lahan yang belum dipadamkan di Kalbar juga belum disebut dalam pemaparan tersebut.
Di Kalimantan Tengah, sisa 209 hektare yang belum tertangani menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi tim gabungan. Operasi darat diperkirakan tetap jadi tulang punggung sampai jarak pandang membaik.