PONTIANAK — Sekolah Desa Berdaya (SDB) Bumitama memasuki tahun kedua dengan agenda yang berbeda. Jika sebelumnya fokus pada pemberian pelatihan, kini tim CSR perusahaan bergerak ke lapangan untuk menilai sejauh mana materi yang diajarkan benar-benar dipraktikkan oleh masyarakat di Kalimantan Barat.
Kegiatan monitoring ini menyasar dua cluster utama: perikanan dan pertanian padi. Tim sengaja menggelar pertemuan langsung di desa dan lokasi budidaya, bukan di ruang kelas, agar gambaran implementasi yang dilakukan warga terlihat lebih utuh.
Rangkaian kegiatan telah berlangsung di enam lokasi berbeda, meliputi Pengatapan Raya, Desa Nanga Tayap, Desa Sungai Melayu, Dusun Membuluh, Dusun Teluk Bayur, dan MKNR. Total 84 peserta yang tergabung dalam enam batch tersebut berasal dari cluster perikanan dan pertanian.
Wawan Setyadi, Head Assistant CSR, menegaskan bahwa setiap wilayah punya karakteristik yang berbeda. Menurutnya, pendekatan yang sama tidak bisa diterapkan untuk semua daerah, sehingga mendengarkan langsung pengalaman warga menjadi kunci untuk memahami tantangan yang mereka hadapi.
"Setiap wilayah memiliki kondisi dan cara berkembang yang berbeda. Karena itu, kami ingin lebih banyak mendengar dan melihat langsung apa yang terjadi di lapangan. Dari sana, kami bisa memahami pengalaman dan tantangan yang dihadapi masyarakat, sekaligus melihat potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah," ungkap Wawan dalam keterangan yang diterima di Pontianak.
Untuk cluster pertanian, perhatian khusus diarahkan pada pengembangan padi masyarakat lokal di Region 6 dan Region 10. Proses monitoring ini sekaligus menjadi ajang penjaringan bagi calon kelompok binaan baru yang dinilai memiliki minat dan potensi untuk mengembangkan usaha tani padi.
Dari kolam ikan hingga hamparan lahan pertanian, ruang belajar yang dihadirkan memang sengaja didekatkan dengan aktivitas sehari-hari warga. Metode ini mempertemukan pengetahuan teoritis dari pelatihan dengan pengalaman praktis yang sudah berjalan di lapangan.
Setiap pertemuan dengan kelompok tani dan pembudidaya ikan dianggap sebagai bagian dari proses memahami kondisi riil. Wawan menambahkan bahwa pendekatan serupa akan diterapkan pada cluster lainnya untuk melihat perkembangan para lulusan dan mengambil pelajaran dari praktik yang telah berjalan.
Dengan pola ini, Sekolah Desa Berdaya diharapkan tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga wadah di mana pengetahuan, pengalaman, dan potensi lokal dapat saling bertemu dan tumbuh bersama.