Markus Thielen, kepala riset di 10x Research, memproyeksikan Bitcoin akan menembus level psikologis US$60.000 dan terus turun hingga US$55.000. Proyeksi ini bukan sekadar spekulasi—ia mendasarkannya pada korelasi historis antara penguatan greenback dan performa buruk aset berisiko seperti Bitcoin.
Dolar Perkasa, Kripto Terkapar
Thielen menjelaskan bahwa dolar AS yang sedang perkasa secara historis menjadi headwind alias angin buritan bagi Bitcoin. Situasi ini diperparah oleh sikap hawkish The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang baru.
Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed justru menaikkan suku bunga alih-alih memangkasnya—skenario yang jelas-jelas mendukung dolar dan menekan aset spekulatif. "Implikasinya adalah bersabar sekarang, dan perhatikan akhir Agustus," tulis Thielen dalam laporannya.
Tiga Sinyal yang Menunjuk ke Akhir Agustus
Meski prospek jangka pendek suram, Thielen tidak melihat penurunan ini berlangsung selamanya. Ia mengidentifikasi tiga indikator terpisah yang semuanya mengarah ke periode yang sama untuk bottom pasar: akhir Agustus hingga Oktober.
Pertama, model yang melacak laju perubahan likuiditas global—yang menurut Thielen berhasil mengidentifikasi peluang beli di Maret dan sinyal keluar di April—menunjuk akhir Agustus sebagai titik infleksi kunci berikutnya. Kedua, pola musiman menunjukkan September secara historis menjadi bulan lemah bagi Bitcoin, sering diikuti oleh penguatan di Oktober.
Kalender Makro Jadi Penentu
Ketiga, waktu bottom ini bertepatan dengan dua pertemuan penting Federal Reserve pada September dan Oktober. Juga berdekatan dengan pemilu paruh waktu AS dan pengumuman refinancing kuartalan Departemen Keuangan pada awal November.
Kombinasi faktor makro dan musiman ini membuat Thielen yakin Bitcoin akan membentuk dasar siklus di kisaran US$55.000. Bagi investor ritel Indonesia yang terbiasa dengan volatilitas kripto, periode Agustus hingga Oktober bisa menjadi jendela akumulasi yang patut dicermati.
Volume Bursa Anjlok, Kontrak Abadi RWA Justru Mencetak Rekor
Di sisi lain, data pasar menunjukkan volume gabungan bursa kripto pada Mei turun 3,45% menjadi US$4,41 triliun—terendah sejak September 2024. Namun, satu segmen justru bergerak kontras: volume perpetual futures untuk aset dunia nyata (RWA) melonjak 10,4% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Ini mengindikasikan bahwa meski pasar spot lesu, minat institusional terhadap derivatif aset riil yang ditokenisasi justru meningkat. Tanda bahwa struktur pasar kripto sedang bergeser, bahkan di tengah tekanan harga dari faktor makro global.