KALIMANTAN BARAT — Dewan Ekonomi Nasional memproyeksi pasar mobil listrik Indonesia menembus 15 besar dunia pada 2026, setelah penjualan BEV Januari-September mencapai 117.218 unit. Angka itu sudah melampaui total sepanjang 2025 yang sebanyak 103.931 unit, dengan pertumbuhan 113,7 persen dibanding periode sama tahun lalu. Proyeksi disampaikan dalam Minerba Convention & Exhibition 2026 di Jiexpo.
Posisi Indonesia saat ini disebut sudah masuk 20 pasar mobil listrik terbesar di dunia. Dewan Ekonomi Nasional menilai capaian itu bukan hasil sekali jalan, melainkan buah pertumbuhan yang terasa sejak lima tahun terakhir.
Lonjakan penjualan BEV terlihat jelas saat data tujuh tahun terakhir disandingkan. Pada 2020, penjualan mobil listrik nasional hanya 125 unit. Setahun berselang angkanya naik ke 687 unit, lalu melesat ke 10.327 unit pada 2022.
Kenaikan berlanjut ke 17.051 unit pada 2023 dan 43.188 unit pada 2024. Puncaknya terjadi pada 2025 dengan 103.931 unit, sebelum rekor itu kembali dipecahkan pada sembilan bulan pertama 2026.
Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menyebut pasar mobil listrik Indonesia sudah cukup besar untuk bersaing di level global. Tahun lalu, dengan sekitar 100 ribu unit, Indonesia masuk 20 pasar mobil listrik terbesar dunia.
"Kenapa? Karena pasar mobil listrik kita cukup besar. Tahun lalu kita sekitar 100-an ribu itu masuk 20 pasar mobil listrik terbesar di dunia. Tahun ini di bulan Agustus-September kalau enggak salah angkanya udah melebihi itu," ujar Seto dalam acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di Jiexpo, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Seto menilai pertumbuhan pasar BEV Indonesia termasuk yang paling cepat dibandingkan negara lain. Dua sampai tiga tahun lalu, angka penjualannya masih sangat kecil.
"Jadi paling mungkin 2026 ini kita akan lebih besar gitu. Jadi saya kira kita bisa masuk mungkin sekitar top 15 dunia untuk pasar mobil listrik, di mana kalau kita lihat 2-3 tahun lalu itu angkanya sangat kecil, jadi pertumbuhannya sangat sangat fenomenal," paparnya.
Proyeksi 15 besar dunia masih bersandar pada data wholesales, bukan penjualan ritel ke konsumen akhir. Angka ini menggambarkan mobil yang keluar dari pabrik ke dealer, sehingga stok yang menumpuk di jaringan distribusi belum tentu mencerminkan serapan pasar sebenarnya.
Meski begitu, tren tujuh tahun terakhir menunjukkan arah yang konsisten. Dari 125 unit pada 2020 menjadi lebih dari 117 ribu unit pada sembilan bulan 2026, kenaikannya nyaris seribu kali lipat dalam kurun enam tahun.
Bagi konsumen, pertumbuhan pasar sebesar ini biasanya berdampak pada dua hal: pilihan model yang makin banyak dan persaingan harga yang makin ketat. Keduanya jadi sinyal yang layak dicermati menjelang penutupan tahun 2026.