KALIMANTAN BARAT — Audiolog utama Hear.com, Dr. Rachel Artsma, mengungkap bahwa fitur active noise cancellation (ANC) pada earbuds dan headphone tidak benar-benar melindungi pendengaran pengguna. Perlindungan telinga yang sesungguhnya baru terwujud jika ANC dibarengi penurunan volume dan pembatasan durasi mendengarkan.
Dr. Rachel Artsma menjelaskan bahwa kerusakan telinga bagian dalam terjadi pada sel-sel rambut halus yang berdiri tegak di dalam koklea. Ketika suara masuk pada volume tinggi, durasi panjang, atau keduanya sekaligus, sel-sel rambut tersebut roboh dan tidak bisa berdiri kembali.
Kerusakan itu bisa bersifat sementara maupun permanen. Telinga berdenging, suara terasa meredam, sensasi berputar, hingga bunyi berdengung menjadi tanda peringatan yang sering diabaikan pengguna headphone.
Banyak pengguna menganggap ANC sebagai tameng otomatis untuk telinga. Anggapan itu keliru. Menurut Artsma, teknologi ANC umumnya hanya meredam kebisingan sekitar 20 dB, dan efektivitasnya lebih besar pada frekuensi rendah seperti gemuruh mesin pesawat atau kereta.
Pada kebisingan yang sangat keras, suara tetap menembus meski ANC aktif. Karena itu, ANC tidak bisa disebut sebagai fitur pelindung pendengaran secara langsung.
"ANC hanya bekerja membantu melindungi pendengaran Anda jika Anda juga menurunkan volumenya," ujar Artsma, dikutip dari wawancara dengan laman teknologi konsumen.
Manfaat ANC justru bersifat tidak langsung. Saat berada di kereta atau pesawat, pengguna biasanya menaikkan volume untuk menutupi bising sekitar. Dengan ANC aktif, volume bisa tetap rendah karena suara luar sudah diredam lebih dulu.
Volume hanya separuh persoalan. Separuh lainnya adalah durasi paparan suara yang bersifat kumulatif. Artsma merekomendasikan aturan 60/60: volume tidak lebih dari 60 persen dan durasi tidak lebih dari 60 menit, lalu berhenti sejenak.
Jeda yang dianjurkan bukan sekadar dua menit. Artsma menyarankan istirahat mendekati satu jam agar telinga pulih, karena organ pendengaran sangat sensitif terhadap paparan berulang.
Sejumlah earbuds kelas atas kini menyediakan tes pendengaran dan profil dengar personal, seperti AirPods Pro 2 dan AirPods Pro 3, Galaxy Buds3 Pro dan Galaxy Buds4 Pro, Nothing Ear (3), serta CMF Buds 2 Plus. Apple memimpin tren ini lewat suite fitur Hearing Health.
Artsma menyambut baik inovasi tersebut karena meningkatkan kesadaran pengguna terhadap kondisi pendengaran. Namun, fitur ini tidak bisa menggantikan perawatan profesional.
"Fitur itu membantu orang masuk ke ekosistem layanan pendengaran, seperti pintu gerbang. Tapi kami tidak merekomendasikan earbuds konsumen sebagai solusi jangka panjang," kata Artsma.
Alasannya, penanganan gangguan dengar membutuhkan alat bantu dengar yang dipakai sepanjang jam bangun untuk melatih otak memproses suara. Earbuds konsumen umumnya tidak mampu bertahan 12 jam nonstop, terutama saat fitur profil dengar aktif yang menguras baterai.
Sejumlah pengguna melaporkan sensasi seperti berada di terowongan angin atau ruang vakum saat ANC menyala. Artsma menegaskan sensasi itu umumnya hanya persepsi, bukan tekanan fisik nyata.
Efek tersebut muncul karena ANC memangkas frekuensi rendah, sehingga otak memersepsikannya mirip perubahan ketinggian saat naik pesawat. Kendati umumnya tidak berbahaya, telinga berdenging atau suara meredam setelah memakai headphone tetap perlu diperiksakan.
Bagi penikmat konser, Artsma menyarankan dua langkah sederhana. Pertama, jangan berdiri tepat di depan speaker dan jaga jarak dari sumber suara. Kedua, pakai pelindung telinga high-fidelity untuk menekan intensitas bising tanpa mengorbankan kualitas suara.
Pesan utamanya jelas: volume dan durasi sama-sama menentukan kesehatan pendengaran jangka panjang. Bagi pengguna earbuds dan headphone di Indonesia yang mendengarkan musik berjam-jam setiap hari, kombinasi ANC, volume rendah, dan jeda teratur menjadi cara paling praktis menjaga telinga tetap sehat hingga usia lanjut.