Jelajah Wisata Budaya ke-4 Digelar di Medan, Angkat Kota Multikultur ke Pasar ASEAN

Penulis: Ujang Rahmat  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:06:31 WIB
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyambut peserta Jelajah Wisata Budaya ke-4 di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Senin malam, 5 Oktober 2026.

KALIMANTAN BARAT — Medan menjadi tuan rumah Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 pada 5-8 Oktober 2026, membawa misi memperkenalkan kota multikultur kepada buyer dari Thailand, Malaysia, dan Singapura. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyebut keberagaman budaya Melayu, Batak, Jawa, Karo, Minang, Aceh, Tionghoa, hingga India sebagai modal pariwisata sekaligus penggerak ekonomi daerah. Acara ini menyasar pelaku wisata domestik dan mancanegara agar Medan masuk dalam paket perjalanan kawasan.

Peserta JWB ke-4 disambut lewat Welcome Dinner di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan pada Senin malam, 5 Oktober 2026. Buyer dari tiga negara ASEAN dan sejumlah daerah di Indonesia hadir langsung, disiapkan untuk melihat Medan dari sisi yang jarang masuk brosur wisata arus utama: kota tempat berbagai tradisi hidup berdampingan, bukan sekadar melintas.

Medan sebagai Kota Multikultur

Keberagaman budaya Melayu, Batak, Jawa, Karo, Minang, Aceh, Tionghoa, dan India disebut Rico Waas sebagai daya tarik yang harus terus dipromosikan. Warga Medan terbiasa mengenakan dan merayakan tradisi budaya yang berbeda-beda.

Perayaan keagamaan dan kebudayaan seperti Thaipusam, Deepavali, hingga Imlek turut dirayakan di kota ini. Kombinasi itulah yang membuat Medan sulit disamakan dengan kota lain di Indonesia.

"Sangat tepat JWB ke-4 ini dilaksanakan di Medan karena kota ini unlimited to explore," ujar Rico Waas.

Kawasan Wisata yang Sedang Disiapkan

Pemko Medan tengah menata sejumlah kawasan strategis pariwisata, di antaranya Lapangan Merdeka, Kesawan, Kota Tua, Istana Maimun, Masjid Raya, dan Taman Sri Deli. Pengembangan kawasan ini diharapkan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Rico menempatkan kebudayaan sebagai instrumen diplomasi. "Kebudayaan adalah soft diplomacy kita. Bagi Indonesia, kekayaan budaya adalah soft power untuk dipromosikan ke luar negeri," katanya.

Kuliner dan Aktivitas Malam

Medan diperkenalkan pula sebagai the city that never sleeps. Kuliner khas kota ini bisa dinikmati hampir 24 jam, ditemani aktivitas publik seperti Car Free Day dan Car Free Night yang menampilkan seni, budaya, dan kreativitas anak muda.

Rico mengajak para buyer dan seller memperpanjang kunjungan. Salah satu yang direkomendasikan adalah Gallery Mustika Deli, yang menampilkan produk unggulan UMKM lokal hasil kurasi.

"Stay one more day di Kota Medan agar memberikan kesan mendalam," ucapnya.

Eksplorasi Karo hingga Desa Dokan

Rangkaian JWB ke-4 berlangsung 5-8 Oktober 2026 dan mengeksplorasi pariwisata Karo dengan fokus Desa Dokan Merek. Peserta tidak sekadar berkunjung, tetapi diajak menyelami alam, budaya, kuliner, dan keramahan masyarakat setempat.

Ketua ASPPI DPD Sumut, Achmad Fauzi Lubis, menyatakan JWB kali ini melibatkan seluruh pelaku wisata untuk memperkuat hubungan antarpelaku sekaligus membuka peluang agar JWB berkembang menjadi produk wisata yang bisa ditawarkan kepada wisatawan.

Menurut Achmad Fauzi, potensi Kota Medan perlu diperkenalkan lebih luas sebagai kota dengan budaya, kawasan bersejarah, museum, destinasi wisata, dan kuliner kepada wisatawan melalui buyer domestik dan mancanegara.

Peluang Kemitraan bagi Pelaku Wisata

JWB ke-4 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pertemuan pelaku pariwisata. Jejaring yang terbentuk diharapkan membuka peluang kemitraan dan memperkuat posisi Medan sebagai destinasi wisata budaya yang kaya dan beragam.

Bagi traveler yang berencana ke Medan, JWB ke-4 menegaskan satu hal: kota ini menuntut waktu lebih dari sehari. Informasi jadwal acara budaya dan paket wisata terbaru dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata setempat atau pelaku wisata di Sumatera Utara.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top