Danantara Kebut Merger BUMN Karya, Target Sisa 200 Entitas Akhir 2026

Penulis: Ujang Rahmat  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:36:31 WIB
Danantara targetkan entitas BUMN tersisa 200 perusahaan pada akhir 2026.

KALIMANTAN BARAT — Danantara Asset Management menargetkan jumlah entitas BUMN yang dikelola tinggal 200 perusahaan pada akhir 2026, turun dari lebih dari 1.000 entitas saat ini. Penggabungan BUMN Karya menjadi prioritas pertama yang dikebut karena dinilai paling mudah dieksekusi. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi korporasi yang diklaim terbesar di dunia.

Danantara Asset Management menargetkan penyusutan jumlah entitas BUMN secara drastis. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan pemerintah tengah merapikan lebih dari 1.000 entitas BUMN melalui penggabungan hingga penutupan perusahaan. Ia berharap proses tersebut rampung pada akhir tahun ini.

"Ini sudah selesai kita tentukan sehingga harapannya ini selalu disampaikan oleh Bapak Presiden, kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan yang kita kelola, ya," kata Dony di Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Merger BUMN Karya Jadi Prioritas Pertama

Dony menjelaskan, sektor karya dipilih sebagai yang pertama digabung karena prosesnya paling mudah dibanding sektor lain. Beberapa perusahaan konstruksi pelat merah akan disatukan lebih dulu sebelum pemerintah menyentuh perusahaan yang butuh penanganan lebih rumit.

"Merger PP, Adhi Karya, kemudian Brantas dan Nindya Karya ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya. Sehingga kita mulai melakukan merger ini dulu, kemudian baru berikutnya perusahaan yang harus kita restrukturisasi," ungkapnya.

Dua nama yang belum bisa langsung digabung adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Keduanya masih membutuhkan restrukturisasi keuangan sebelum masuk ke skema merger. Sementara PT Hutama Karya (Persero) dinilai relatif sehat secara finansial.

"Jadi, hanya Wika, Waskita yang akan menjadi persoalan karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, divestasi aset mereka, menurunkan hutangnya, sisanya akan kita restrukturisasi," jelas Dony.

Berapa Banyak BUMN yang Bakal Ditutup?

Target perampingan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan Indonesia hanya memiliki paling banyak 300 BUMN hingga 31 Desember 2026. Pemerintah hanya akan mempertahankan perusahaan yang produktif dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

"Kita telah menutup 290 BUMN. Pada Desember 2026, kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. 750 BUMN kita akan tutup," ujar Prabowo saat Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8/2026).

Prabowo menyebut langkah penutupan ratusan BUMN ini sebagai restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Menurutnya, hanya perusahaan yang benar-benar berproduksi dan memberi nilai tambah bagi rakyat yang akan dipertahankan.

Penghematan Rp 50 Triliun dari Efisiensi BUMN

Perampingan entitas BUMN turut menghasilkan penghematan biaya overhead hingga Rp 50 triliun. Angka itu berasal dari pemangkasan gaji direksi dan komisaris serta pengurangan sewa gedung perusahaan-perusahaan yang ditutup.

"Kita telah hemat biaya over head Rp 50 triliun dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung," kata Prabowo.

Bagi masyarakat, penyusutan jumlah BUMN berarti struktur layanan publik dan proyek infrastruktur bakal ditangani entitas yang lebih ramping. Bagi pelaku pasar, perhatian utama tertuju pada nasib emiten konstruksi seperti Waskita dan Wika yang masih menunggu skema restrukturisasi aset dan penurunan utang.

Dengan tenggat akhir 2026, sisa waktu sekitar satu tahun menjadi penentu apakah target 200 entitas yang dikelola Danantara bisa tercapai atau justru molor seperti sejumlah program restrukturisasi BUMN sebelumnya.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top