PONTIANAK — Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, menyampaikan perbaikan kondisi karhutla berdasarkan data BMKG yang diperbarui hingga Senin (28/9) pukul 23.59 WIB. Pemantauan aplikasi Sipongi dengan tiga satelit, yakni Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA, menunjukkan titik panas maupun titik api nyaris tak terlihat di wilayah kabupaten/kota lain.
"Kalau secara keseluruhan dari kabupaten yang berada di Kalbar pada hari ini, tanggal 29 September, sudah mengalami perbaikan yang cukup bagus," kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla, Selasa (29/9).
Perbaikan tercermin dari jarak pandang di sejumlah wilayah. Di Kota Pontianak, jarak pandang hingga sekitar pukul 06.00 WIB berada pada kisaran dua hingga lima kilometer. Kondisi serupa terlihat di Kabupaten Kubu Raya.
Kabupaten Sintang belum sepenuhnya pulih. Pada Selasa pagi, jarak pandang di daerah itu masih sekitar 700 meter. BPBD berharap kondisi tersebut membaik seiring berjalannya waktu.
Potensi hujan menjadi salah satu faktor yang diharapkan mempercepat pemulihan. Data BMKG menunjukkan hampir seluruh kabupaten/kota di Kalbar berpotensi hujan pada Selasa (29/9) dengan intensitas rendah hingga sedang, dan potensi serupa diperkirakan berlanjut pada Rabu (30/9).
"Kalau dilihat pada saat ini, sudah ada titik-titik hujan yang mempunyai intensitas hujan yang sedang. Selain juga ada beberapa kabupaten yang mempunyai potensi hujan ringan," jelas Ridwan.
Laporan yang masuk melalui aplikasi Tanggap mencatat perkembangan signifikan. Dari total 95 laporan hingga Selasa, sebanyak 94 telah diselesaikan. Satu laporan masih dalam penanganan, yakni di Kabupaten Sintang.
Ridwan menyebut kondisi titik di Sintang tidak lagi menunjukkan kebakaran besar. Tim di lapangan telah melakukan pendinginan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.
"Berdasarkan seluruh data pemantauan BMKG, Sipongi dan aplikasi Tanggap, operasi penanganan karhutla tetap dilaksanakan melalui tim udara, dan darat," ujarnya.
Operasi udara melibatkan dua helikopter. Satu helikopter diarahkan untuk penanganan dan pemantauan di wilayah Ketapang serta Kayong Utara. Helikopter lainnya melaksanakan patroli udara di Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan daerah sekitarnya.
Water bombing dari pangkalan Lanud Supadio diarahkan ke sejumlah lokasi yang masih terpantau memiliki titik api atau asap. Penanganan dilakukan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara dan Desa Air Hitam Hulu, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Satu operasi lain diarahkan ke wilayah Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Tim darat BPBD Kalbar bersama sejumlah organisasi perangkat daerah melakukan pendinginan di wilayah Kubu Raya. Tim tersebut melibatkan Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, TNI dan Polri. Pemantauan menggunakan drone dilakukan untuk memastikan lokasi yang masih terbakar maupun membutuhkan pendinginan.
"BPBD kabupaten/kota juga tetap melakukan penanganan di wilayah masing-masing. Di Ketapang, misalnya, tim daerah melakukan pemadaman dan pendinginan terhadap lokasi yang masih terpantau dari data BMKG," jelas Ridwan.
BPBD Kalbar mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Berdasarkan data BMKG, potensi kemudahan terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai pada 3 hingga 5 Oktober mendatang, terutama pada 4 dan 5 Oktober.
Masyarakat maupun pihak perusahaan diminta tidak melakukan pembakaran lahan. Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya kembali titik api setelah kondisi karhutla di Kalbar mulai membaik.
"Diharapkan kepada seluruh masyarakat, baik itu secara pribadi ataupun korporasi, dilarang untuk membakar lahan," tegasnya.
Polda Kalbar bersama jajaran terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran, bersamaan dengan imbauan kepada masyarakat agar ikut mencegah karhutla.