KALIMANTAN BARAT — Paragraf pembuka: PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menghadapi tekanan ganda. Di saat operasional tiga anak usahanya terganjal izin produksi, emiten tambang milik konglomerat Low Tuck Kwong itu justru tengah dibidik pengusaha Kalimantan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Manajemen mengungkapkan persetujuan perubahan RKAB 2026 untuk PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP) belum terbit meski permohonan telah diajukan sesuai ketentuan.
Direktur Bayan Resources Low Yi Ngo dan Jenny Quantero menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada para pelanggan pada 11 September 2026. Langkah ini diambil atas kewajiban pemenuhan penyediaan batu bara berdasarkan Perjanjian Penyediaan Batubara atau Coal Supply Agreement.
"Pada 11 September 2026 menyampaikan pemberitahuan kejadian/keadaan yang bersifat memaksa (keadaan kahar/force majeure) terhadap kewajiban pemenuhan penyediaan batu bara berdasarkan Perjanjian Penyediaan Batubara/Coal Supply Agreement kepada para pelanggannya," tulis manajemen BYAN dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (15/9) malam.
Persetujuan RKAB menjadi syarat utama bagi anak usaha Bayan untuk menjalankan produksi batu bara secara sah. Tanpa dokumen itu, kegiatan produksi terganggu dan kemampuan perseroan memenuhi kewajiban pasokan ke pelanggan ikut terpengaruh.
Manajemen menyebut belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB memberikan dampak cukup material terhadap kelangsungan usaha perusahaan. Meski demikian, perseroan berharap langkah force majeure dapat meminimalisir risiko dan konsekuensi yang lebih besar.
"Namun dengan dilakukannya pemberitahuan keadaan/kejadian yang bersifat memaksa (Keadaan Kahar/Force Majeure) ini, diharapkan dapat meminimalisir risiko dan/atau konsekuensi bagi BYAN dan anak-anak perusahannya," tulis manajemen.
Katadata.co.id telah meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno terkait belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026 tiga anak usaha Bayan Resources. Hingga berita ini ditulis, Tri belum merespons.
Ironisnya, gangguan izin ini datang setelah Bayan mencatat sejumlah rekor operasional sepanjang 2025. Produksi batu bara perseroan mencapai 68 juta ton, naik 19,6% dibandingkan rekor sebelumnya sebesar 56,9 juta ton pada 2024.
Penanganan batu bara melalui Balikpapan Coal Terminal (BCT) serta Kalimantan Floating Transfer Station (KFT) 1, 2, dan 3 juga mencatat rekor dengan total 55,9 juta ton, meningkat 18,9% dibandingkan 2024. Dari sisi penjualan, perseroan membukukan 70,8 juta ton sepanjang 2025 atau melonjak 25,9% dibandingkan capaian terbaik sebelumnya.
Persoalan RKAB muncul ketika tambang Bayan Resources tengah dibidik Haji Isam. Pengusaha asal Kalimantan itu disebut masih bernegosiasi untuk mengakuisisi 62% saham BYAN dengan nilai penawaran sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,65 triliun menggunakan asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS.
Harga tersebut jauh di bawah harga pasar BYAN. Bloomberg melaporkan entitas yang dikendalikan Haji Isam tengah mengajukan penawaran tunai, dengan pembayaran kemungkinan dilakukan secara bertahap. Kesepakatan pada harga itu akan mewakili diskon sekitar 80% dari level pasar saat ini.
Terbatasnya jumlah saham yang beredar di publik atau free float dan tipisnya volume perdagangan BYAN dinilai membuat harga saham di pasar tidak sepenuhnya mencerminkan valuasi dalam transaksi berjumlah besar.
Manajemen Jhonlin Grup melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia menyatakan belum mendapat informasi tentang rencana akuisisi tersebut.
"Namun pemegang saham pengendali perseroan telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu sebagai investor mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di perseroan," ujar manajemen JARR.
Penutup: Bagi investor, kombinasi gangguan izin produksi dan manuver akuisisi membuat prospek BYAN dalam beberapa bulan ke depan bergantung pada dua hal: kapan Kementerian ESDM menerbitkan persetujuan RKAB, dan apakah negosiasi dengan pihak Haji Isam berlanjut ke tahap kesepakatan. Haji Isam sendiri merupakan pendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024, dengan Jhonlin Group yang disebut mengajukan kuota produksi batu bara sekitar 60 juta ton tahun ini.