KALIMANTAN BARAT — Abon terbuat dari daging sapi, ayam, atau ikan yang dimasak kering lalu disuwir halus. Karena berasal dari protein hewani, banyak ibu menganggapnya bisa jadi pengganti lauk. Nyatanya, ada catatan penting sebelum Memberikan abon pada bayi.
Setiap 100 gram abon punya profil gizi yang berbeda, tergantung jenis dagingnya. Data dari NilaiGizi.com mencatat abon sapi mengandung 480 kkal, 30 gram karbohidrat, 25 gram lemak, 34 gram protein, 0,6 miligram kolesterol, dan 1.830 miligram natrium.
Abon ayam punya 358 kkal, 14,6 gram protein, 38,6 gram karbohidrat, 16 gram lemak, 165 miligram kalsium, 136 miligram fosfor, 3 mcg vitamin A, 14,6 mcg besi, dan 194 mcg beta karoten.
Sementara abon ikan mengandung 435 kkal, 20,2 gram lemak, 24,3 gram vitamin B3, 36,10 gram karbohidrat, dan 27,2 gram protein.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Jovita Amelia, M.Sc, Sp.GK menegaskan abon bukan makanan yang dilarang untuk MPASI. Namun porsinya harus dijaga.
"Abon boleh tapi karena abon umumnya tinggi kandungan gula serta natrium, maka sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas atau pilih abon untuk anak, kandungannya terdiri dari protein, lemak, dan karbohidrat," kata Dokter Jovita saat dihubungi Popmama.com.
Dokter tamatan Universitas Indonesia yang berpraktik di Ciputra Hospital CitraGarden City itu menambahkan, nutrisi paling penting untuk tumbuh kembang bayi adalah karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral. MPASI yang diberikan harus memenuhi semua kandungan tersebut.
Proses pembuatan abon yang panjang membuat nutrisi penting pada daging ikut berkurang. Kandungan gizi abon sapi, ayam, atau ikan tidak sebanyak daging aslinya.
Karena itu, abon lebih disarankan sebagai bahan tambahan, bukan menu atau lauk utama MPASI si Kecil. Posisinya bisa jadi pelengkap, bukan pengganti protein hewani segar.
Abon yang dijual bebas di pasaran dibuat untuk konsumsi umum, tanpa ketentuan usia tertentu. Ini yang membuat ibu perlu lebih teliti saat memilih.
Abon khusus bayi biasanya diformulasikan dengan kandungan yang aman dan bebas bahan pengawet buatan. Nutrisinya pun disesuaikan untuk mendukung tumbuh kembang bayi.
Sebelum menyendokkan abon ke mangkuk MPASI si Kecil, perhatikan empat hal berikut:
Abon memang praktis, tapi bukan lauk sehari-hari. Berikan dalam jumlah terbatas, pilih produk khusus bayi, dan tetap penuhi kebutuhan gizi si Kecil dari sumber protein segar.