MEMPAWAH — Sosialisasi pencegahan karhutla kali ini tidak berhenti pada imbauan seremonial. Tim penyuluhan yang dipimpin Brigjen TNI Washington Simanjuntak membawa materi pendukung yang menyentuh langsung persoalan di lapangan, yakni kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar yang masih sering terjadi di kawasan desa.
Dalam forum tersebut, warga Sengkubang diingatkan bahwa pencegahan karhutla tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada aparat. Masyarakat yang setiap hari bersentuhan langsung dengan lahan justru menjadi kunci utama dalam menekan munculnya titik api.
Pesan ini ditekankan berulang kali oleh tim penyuluhan. Membuka atau membersihkan lahan dengan metode bakar, sekecil apa pun, berisiko memicu api menyebar luas ketika musim kemarau tiba.
Kegiatan ini menjadi bukti kolaborasi yang tidak setengah-setengah. Hadir Kepala Dinas Sosial PPPMPD Mempawah Rahmanudin Wiyono, Plt Camat Mempawah Hilir Syamsul Rizal, Kapolsek Mempawah Hilir Iptu Edy Marwan, hingga Kepala Desa Sengkubang Alfian beserta perangkat dan anggota BPD.
Dari unsur TNI, Brigjen TNI Washington Simanjuntak didampingi narasumber Sesko TNI, Kolonel Pnb Anjoe Manik. Sejumlah perwira menengah lain juga ambil bagian, di antaranya Kolonel Tek Yana Hendriyansyah, Kolonel Inf I Gusti Bagus Putu Wijangsa, Kolonel Laut (P) Farid Ardiansyah, serta Kolonel Inf Bambang R.
Kehadiran berbagai unsur dalam satu forum adalah langkah membangun pemahaman bersama. Bahwa persoalan karhutla adalah tanggung jawab kolektif, tidak hanya milik TNI, polisi, atau pemerintah daerah.
Pendekatan dari desa seperti ini dinilai lebih efektif ketimbang sekadar patroli udara atau razia di lapangan. Edukasi langsung kepada pemilik lahan dan tokoh masyarakat diharapkan menumbuhkan kesadaran yang lebih permanen, sehingga warga tidak lagi mengandalkan api untuk membuka lahan pertanian maupun perkebunan.