KALIMANTAN BARAT — Kabar ini bukan berasal dari rilis pemasaran, melainkan dari panggilan investor relations yang dilaporkan langsung oleh Autocar. CEO Lotus, Qingfeng, menyatakan bahwa opsi V-6 hybrid akan menjadi kunci kepatuhan terhadap regulasi emisi global, "sambil mempertahankan DNA penting Lotus berupa rekayasa ringan dan dinamika berkendara ekstrem yang berfokus di sirkuit." Ini adalah pernyataan strategis yang menentukan arah pengembangan Type 135, nama internal untuk Esprit generasi baru.
Lotus tidak main-main dengan segmentasi. Untuk mereka yang menginginkan pengalaman berkendara paling murni, ada V-6 hybrid. Powertrain ini diyakini merupakan unit yang sama dengan yang sedang disiapkan untuk Emira facelift, terdiri dari mesin 3.0-liter turbocharged V-6 yang dipadukan dengan transmisi otomatis dan motor listrik terintegrasi.
Pada Emira, kombinasi ini diperkirakan menghasilkan tenaga hingga 536 HP dan torsi 516 lb-ft. Untuk Esprit, angka tersebut hampir pasti akan dinaikkan untuk menciptakan jarak yang jelas dari adiknya. Namun, perlu digarisbawahi, ini masih spekulasi—Lotus belum merilis angka resmi untuk varian ini.
Di sisi lain, bagi yang haus tenaga maksimal, V-8 hybrid tetap menjadi primadona. Mesin ini diproduksi oleh Horse—perusahaan patungan antara Renault dan Geely (induk Lotus)—dengan output gabungan yang ditargetkan mencapai minimal 986 tenaga kuda. Tenaga tersebut disalurkan melalui gearbox dual-clutch delapan percepatan.
Yang menarik, meski memiliki lebih banyak silinder, Lotus memberikan perhatian serius pada pengurangan bobot powertrain ini. Ini sejalan dengan filosofi Colin Chapman yang selalu mengutamakan bobot ringan daripada sekadar menambah tenaga mentah—sebuah pendekatan yang sering dilupakan kompetitor.
Qingfeng menjelaskan bahwa Type 135 dirancang untuk mengisi celah antara Emira dan hypercar listrik Evija. "Type 135 akan mengisi celah antara Emira dan Evija, mempertahankan koneksi emosional yang dimiliki pemilik Emira dengan handling mekanis Lotus, sambil memanfaatkan teknologi hybrid V-8 untuk mendekati tolok ukur teknis yang ditetapkan oleh Evija," ujarnya kepada Autocar.
Pernyataan ini penting. Artinya, Esprit bukan sekadar Emira yang lebih bertenaga, melainkan mobil yang dirancang untuk menghadirkan sensasi berkendara analog yang lebih murni—dengan teknologi powertrain modern yang canggih. Ini adalah keseimbangan yang sulit, dan menjadi tantangan terbesar bagi para insinyur Lotus.
Perlu dicatat, Type 135 awalnya dirancang sebagai penerus listrik murni dari Emira. Namun, perubahan kondisi pasar global memaksa Lotus mengubah haluan. Keputusan untuk beralih ke hybrid—baik V-6 maupun V-8—adalah pengakuan bahwa permintaan pasar terhadap supercar listrik murni belum sekuat yang diperkirakan, terutama di segmen harga ini.
Ini keputusan yang cerdas. Alih-alih memaksakan diri menjadi pelopor EV yang mungkin gagal di pasar, Lotus memilih jalur aman yang tetap relevan secara emosional dan teknis.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum Anda tergoda untuk memesan unit:
Keputusan Lotus untuk menawarkan dua varian hybrid adalah langkah pragmatis yang cerdas. V-6 untuk mereka yang menginginkan pengalaman berkendara ringan dan lincah di sirkuit, V-8 untuk mereka yang haus tenaga maksimal. Ini bukan sekadar mobil baru, ini pernyataan bahwa Lotus tetap setia pada akarnya—hanya saja, kini dengan soket listrik.
Namun, yang perlu diuji adalah apakah "sensasi analog" yang dijanjikan benar-benar terasa di tengah kompleksitas sistem hybrid. Sampai kita bisa menguji langsung di jalanan Indonesia, semua ini masih sebatas janji di atas kertas. Yang jelas, Esprit 2028 menjadi salah satu supercar paling dinanti—dan paling menarik secara strategi—dari pabrikan asal Inggris ini.