KALIMANTAN BARAT — Pasar saham domestik menunjukkan sinyal yang kontras di tengah derasnya arus keluar modal asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual investor asing pada perdagangan Jumat mencapai Rp1 triliun, melanjutkan tekanan dari hari sebelumnya yang tercatat Rp1,41 triliun. Namun, laju IHSG justru bertolak belakang dengan mencatatkan penguatan signifikan.
"Target tersebut memberikan sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro," ujar Nafan kepada media, Jumat (14/8).
Selain pertumbuhan, pemerintah juga memasang target inflasi di level 2,5% dan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sebesar 6,9%. Kombinasi sasaran ini memberikan gambaran optimisme fiskal di tengah ketidakpastian global.
Tekanan jual yang menyasar emiten petrokimia, energi, dan telekomunikasi ini menunjukkan investor asing masih melakukan rotasi portofolio secara selektif.
Kendati penguatan terjadi, Nafan mengingatkan pelaku pasar untuk tetap selektif. Investor dinilai akan mencermati realisasi pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga, investasi, hingga penyaluran kredit perbankan. Kinerja emiten kuartal II yang baru dirilis juga akan menjadi ujian apakah fundamental pasar mampu bertahan di tengah derasnya arus keluar asing.
"Kekuatan pasar ke depan sangat bergantung pada realisasi data makro dan kemampuan emiten menjaga profitabilitas," pungkasnya.
Dengan akumulasi net sell asing yang telah mencapai Rp71,83 triliun sejak awal 2026, pasar menantikan langkah stabilisasi lanjutan dari pemerintah dan otoritas untuk menjaga kepercayaan investor. Investasi mengandung risiko.