KALIMANTAN BARAT — Penguatan tipis rupiah pada penutupan perdagangan akhir pekan dinilai belum cukup menjadi tameng menghadapi tekanan eksternal. Sentimen positif dari pidato Nota Keuangan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto kalah dominan dibandingkan risiko geopolitik global yang tengah memanas.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Minggu (16/8/2026), menyebut indeks dolar AS berpotensi bergerak fluktuatif dengan level support di 99,00 dan resistance 101,90. Bahkan, indeks dolar disebut bisa menyentuh resistance 102,00 dalam perdagangan pekan depan.
Ibrahim menjelaskan pasar akan mencermati eskalasi sejumlah konflik geopolitik yang berpotensi memicu permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Ketegangan tersebut juga berisiko mendorong harga minyak mentah dunia naik lebih tinggi.
“Untuk rupiah sendiri, walaupun kemarin menguat karena pidato presiden tentang APBN 2027 cukup bagus, ada kemungkinan rupiah dibuka melemah karena faktor eksternal. Rentangnya di Rp17.820 sampai Rp17.880 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Pasar sempat merespons positif pidato Nota Keuangan RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8). Respons tersebut mendorong rupiah menguat 50 poin pada penutupan perdagangan akhir pekan.
Meski demikian, penguatan tersebut dipandang hanya bersifat sementara. Investor global cenderung beralih ke aset-aset berdenominasi dolar AS ketika ketidakpastian meningkat, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah sulit dihindari.
Pergerakan indeks dolar AS menjadi kunci utama yang akan menentukan arah nilai tukar rupiah pekan depan. Jika indeks dolar menembus resistance 102,00, tekanan jual terhadap rupiah berpotensi semakin besar.
Investasi mengandung risiko.