KUBU RAYA — Aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di Kabupaten Kubu Raya untuk sementara dihentikan. Para pelajar diminta belajar dari rumah masing-masing melalui sistem daring terhitung sejak 11 hingga 14 Agustus 2026.
Keputusan ini tertuang dalam surat edaran resmi yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kubu Raya. Surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh satuan pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP yang terdampak kabut asap.
Kepala Disdikbud Kubu Raya, Sy Muhammad Firdaus, menjelaskan bahwa PJJ merupakan opsi bagi sekolah yang wilayahnya terdampak kabut asap. Pihaknya memantau kondisi cuaca yang kerap berubah secara dinamis.
“PJJ ini adalah opsi bagi sekolah yang terdampak dari kabut asap,” ungkap Firdaus.
Menurutnya, kualitas udara cenderung semakin menurun drastis menjelang sore hari. Kondisi ini yang menjadi pertimbangan utama agar seluruh sekolah menerapkan pembelajaran daring demi keselamatan para siswa.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kubu Raya, Yusran Anizam, mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini membawa rentetan persoalan. Selain kabut asap akibat karhutla, kekeringan juga membuat debit air Sungai Kapuas semakin dangkal.
“Pada rapat sudah kita bahas bersama kalau saat ini kondisi air mengalami kekeringan serta berubah rasa menjadi asin. Kita juga melibatkan anak sekolah untuk belajar daring,” kata Yusran usai rapat paripurna di kantor DPRD Kubu Raya, Selasa (11/8/2026).
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini membuat potensi meluasnya karhutla semakin tinggi.
Menghadapi situasi ini, Pemkab Kubu Raya menginstruksikan jajaran kecamatan untuk gencar melakukan sosialisasi pencegahan karhutla. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas membakar lahan dengan alasan apapun.
“Kita mengimbau masyarakat melalui para Camat agar terus mengsosialisasikan potensi Karhutla karena bila terjadi lagi udara akan semakin tidak sehat,” jelas Yusran.
Langkah antisipasi ini dinilai krusial mengingat dampak karhutla tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat secara luas.