KALIMANTAN BARAT — Konsep elektrifikasi truk logistik selama ini identik dengan membangun unit baru dari nol, seperti yang dilakukan Tesla Semi. Revoy justru mengambil jalan berbeda: menyulap truk diesel yang sudah beroperasi menjadi kendaraan hybrid tanpa perlu mengganti mesin utamanya. Modul yang mereka sebut "battery backpack" ini diklaim mampu memberikan bantuan tenaga listrik hingga 200 mil atau sekitar 320 kilometer untuk truk dengan bobot total 80.000 pon (36 ton).
Pendekatan ini terbilang unik karena tidak bertujuan membuat truk melaju full listrik. Modul tersebut dirancang untuk bekerja sinkron dengan putaran mesin diesel, mengurangi beban kerja mesin, dan memulihkan energi saat pengereman regeneratif. Alih-alih menambah jarak tempuh listrik murni, sistem ini lebih fokus pada efisiensi bahan bakar dan menekan emisi dari truk-truk tua yang masih layak pakai.
CEO Revoy, Peter Reinhardt, menyebut biaya operasional sistem ini sebanding dengan truk diesel konvensional, bahkan dengan perhitungan harga BBM sebelum konflik AS-Iran. Namun ada konsekuensi logistik yang tidak bisa dihindari: paket baterai berkapasitas besar tidak akan pernah penuh hanya mengandalkan energi pengereman. Karena itu, Revoy menyiapkan jaringan stasiun penukaran baterai khusus yang disebut "hubs".
Di titik inilah pengemudi tidak perlu menunggu baterai terisi. Modul yang kosong ditukar dengan yang sudah penuh, mirip konsep penukaran baterai sepeda motor listrik tetapi dalam skala raksasa. Revoy mengklaim modul ini sudah mendapatkan persetujuan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) untuk beroperasi di jalan raya umum sejak 2023.
Setelah menjalani program percontohan bersama Ryder pada tahun lalu, Revoy berencana memulai operasi komersial di rute sepanjang 200 mil dekat Portland, Oregon pada akhir tahun ini. Menariknya, modul yang akan dipakai pada tahap awal ini dirakit dari komponen asal China dan dikemudikan oleh korps pengemudi yang telah menjalani pelatihan khusus.
Dana segar dari putaran pendanaan yang baru saja diumumkan pekan ini akan dipakai untuk mengembangkan generasi kedua yang lebih terjangkau. Targetnya, versi anyar ini punya kapasitas baterai lebih kecil tetapi tetap mempertahankan jarak tempuh bantuan listrik yang sama. Sejauh ini total dana yang terkumpul untuk Revoy mencapai USD 41 juta.
Meski terdengar menjanjikan, konsep ini masih menghadapi sejumlah ganjalan besar. Infrastruktur penukaran baterai yang tersebar di sepanjang rute logistik adalah investasi yang tidak murah. Belum lagi situasi politik di Washington yang mulai tidak ramah terhadap komponen impor asal China, sementara biaya untuk merekayasa ulang dan memindahkan produksi ke dalam negeri jauh lebih besar dari modal yang ada saat ini.
Tekanan tambahan datang dari California. Program rabat kendaraan listrik murni yang akan segera berlaku di negara bagian tersebut berpotensi memperkuat posisi truk listrik penuh seperti Tesla Semi. Jika insentif itu membuat harga truk listrik baru semakin kompetitif, dasar logika bisnis sistem hybrid ala Revoy ini bisa ikut melemah.