KALIMANTAN BARAT — Raksasa teknologi asal Korea Selatan itu tidak main-main. Melalui divisi Samsung Heavy Industries, mereka telah menyusun peta jalan untuk membangun tongkang khusus yang akan menjadi rumah bagi server, infrastruktur kelistrikan, dan peralatan daya di atas kapal. Rencana ini diumumkan langsung oleh CEO Samsung Heavy Industries, Sung-an Choi, yang menyebut pusat data terapung sebagai peluang besar baru bagi industri perkapalan dan lepas pantai.
Untuk tahap awal, pusat data ini akan memanfaatkan listrik dari darat dengan menyambung ke jaringan grid yang sudah ada. Namun, Samsung tidak berhenti di situ. Dalam konsep jangka panjang, mereka mempertimbangkan penggunaan sel bahan bakar oksida padat berbahan bakar LNG (liquefied natural gas) serta energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin yang dipasang di atas struktur terapung.
Keunggulan utama dari model ini adalah kecepatan produksi. Karena dibangun menggunakan proses manufaktur galangan kapal yang sudah mapan, pembangunan pusat data terapung diklaim bisa lebih cepat ketimbang pembangunan gedung data center di darat yang harus melewati proses perizinan yang panjang dan berbelit.
Meski menjanjikan, konsep ini bukannya tanpa masalah. Samsung Heavy Industries masih harus menyelesaikan sejumlah tantangan teknis serius yang berkaitan dengan lingkungan laut. Beberapa di antaranya adalah risiko rembesan air dan kelembaban tinggi yang bisa merusak komponen elektronik, sifat korosif air asin terhadap logam, serta stabilitas struktur saat menghadapi pasang surut dan arus laut.
Faktor-faktor ini menjadi kunci agar server dan perangkat keras di dalamnya bisa beroperasi secara andal dalam jangka panjang tanpa mengalami kerusakan akibat kondisi maritim yang keras.
Ambisi Samsung ini menambah daftar panjang perusahaan teknologi yang melirik laut sebagai lokasi alternatif pusat data. Sebelumnya, startup Panthalassa yang didukung oleh miliarder Peter Thiel, telah mengembangkan pusat data terapung yang memanfaatkan energi gelombang dan sistem pendingin air laut.
Di Jepang, proyek serupa juga mendapatkan momentum. Pada Mei tahun lalu, Hitachi menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan pelayaran Mitsui OSK Lines untuk mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas pusat data terapung. Sementara itu, China melalui perusahaan HiCloud Technology baru saja mengumumkan pemasangan pusat data bawah laut senilai 226 juta dolar AS (sekitar Rp 3,7 triliun) di kedalaman laut. Modul server kedap air di instalasi tersebut menggunakan air laut sebagai pendingin pasif untuk menangani beban kerja AI, layanan 5G, dan anotasi data skala besar.
Microsoft juga sempat menguji coba konsep serupa melalui inisiatif Project Natick di lepas pantai Skotlandia dan California, meskipun akhirnya proyek tersebut tidak dilanjutkan ke tahap komersial. Di luar air, wacana pusat data di luar angkasa juga masih bergulir, namun hingga saat ini opsi terapung dinilai paling realistis dalam jangka waktu dekat.
Dorongan untuk mencari alternatif lokasi pusat data tidak lepas dari meningkatnya tekanan terhadap pusat data konvensional. Konsumsi air dan energi yang besar, ditambah dengan penolakan dari masyarakat lokal, membuat operator cloud harus berpikir lebih kreatif. Kebutuhan daya yang melonjak akibat maraknya komputasi AI semakin mempercepat pencarian solusi ini. Dengan rencana komersialisasi pada 2028, Samsung Heavy Industries berharap bisa mengamankan pesanan sebelum instalasi pertama benar-benar dibangun dan beroperasi.