PONTIANAK — Musim kemarau di Kalimantan Barat tahun ini tidak selalu berarti hujan sepenuhnya berhenti. Fenomena kemarau basah atau pancaroba masih mungkin terjadi, di mana cuaca bisa berubah drastis dari terik menjadi hujan lebat dalam waktu singkat. Kondisi ini, menurut catatan Suara Kalbar, menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit, terutama karena perubahan suhu, kelembapan, dan meningkatnya paparan debu serta polusi.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu penyakit yang paling sering ditemukan selama musim kemarau. Udara yang lebih kering membuat debu, serbuk sari, dan partikel polusi bertahan lebih lama di udara sehingga mudah terhirup. Hal ini mengiritasi saluran pernapasan dan mempermudah virus maupun bakteri masuk ke dalam tubuh.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi tenggorokan kering atau gatal, batuk kering maupun berdahak, pilek, bersin-bersin, hingga demam ringan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah menjadi kelompok paling rentan mengalami komplikasi.
Banyak yang mengira demam berdarah hanya meningkat saat musim hujan. Namun, kemarau yang diselingi hujan sesekali justru menjadi kondisi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Genangan air bersih di ember, talang air, pot tanaman, maupun barang bekas dapat menjadi tempat bertelurnya nyamuk pembawa virus dengue.
Gejala yang patut diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan persendian, serta muncul bintik-bintik merah pada kulit. Jika mengalami gejala tersebut, warga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Keterbatasan air bersih selama musim kemarau meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman, seperti diare. Suhu udara yang lebih hangat juga mempercepat perkembangbiakan lalat yang dapat membawa bakteri seperti Escherichia coli dan Salmonella ke makanan. Gejala diare meliputi buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari, kram perut, mual, dan tubuh lemas.
Di sisi lain, paparan sinar matahari dalam waktu lama membuat tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Jika tidak segera diganti, seseorang dapat mengalami dehidrasi hingga heat exhaustion. Pada kondisi yang lebih berat, suhu tubuh bisa meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius dan memicu heatstroke, yang merupakan keadaan darurat medis. Gejalanya meliputi pusing berat, kulit terasa panas dan kering, denyut jantung meningkat, urine berwarna pekat, hingga penurunan kesadaran.
Musim kemarau juga meningkatkan risiko konjungtivitis atau peradangan pada selaput bening mata. Paparan debu, polusi, serta kebiasaan mengucek mata dengan tangan yang kotor dapat memicu iritasi maupun infeksi. Gejala yang sering muncul antara lain mata merah, terasa perih atau mengganjal, produksi kotoran mata meningkat, dan mata lebih sensitif terhadap cahaya. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat menyebar ke mata lainnya atau menular kepada orang lain.
Agar tetap sehat selama musim kemarau, masyarakat diimbau untuk minum air putih sekitar 2–3 liter atau 8–10 gelas setiap hari, serta mengonsumsi minuman elektrolit setelah banyak berkeringat. Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan debu dan polusi, serta kenakan kacamata pelindung agar mata tidak mudah teriritasi.
Selain itu, lakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air. Gunakan losion antinyamuk atau kelambu, terutama untuk melindungi anak-anak. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah dari toilet, serta setelah beraktivitas. Hindari makanan dan minuman yang dijual di tempat terbuka tanpa penutup.
Jika mengalami gejala berat seperti demam tinggi, dehidrasi, atau penurunan kesadaran, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.