Norwegia Akhirnya Penuhi Ekspektasi di Piala Dunia, Reuni dengan Brasil Datang di Momen Tepat

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:16:31 WIB
Norwegia merayakan kemenangan bersejarah 2-1 atas Brasil di fase grup Piala Dunia 1998.

KALIMANTAN BARAT — Untuk negara berpenduduk 5,6 juta jiwa, Norwegia punya daftar prestasi olahraga yang mencengangkan. Atlet musim dingin mereka rakus medali, tim handball putri tak terkalahkan, ada saudara Ingebrigtsen di atletik, dua pemenang tur PGA musim ini, dan bahkan pemain catur terbaik sepanjang masa. Tapi tak ada yang menyatukan negeri ini selain sepak bola—dan tak ada pertandingan yang menghentikan denyut nadi Norwegia selain kemenangan 2-1 atas Brasil di fase grup Piala Dunia 1998.

Kemenangan Bersejarah yang Hapus 28 Tahun Kegagalan

Suara komentator Arne Scheie meneriakkan "Vi har scoret i Marseille!" masih terpatri di kepala setiap warga Norwegia. Scheie, yang dikenal tenang dan faktual, kehilangan kendali saat Norwegia dapat penalti di menit akhir dengan skor 1-1. Ia bahkan salah menyebut nama eksekutor Kjetil Rekdal sebagai "Kjetil Reknett dari Werder Bremen"—sebuah kesalahan yang justru jadi legenda.

"Tendangan ini akan menjadi tendangan terpenting dalam sejarah federasi sepak bola Norwegia," teriak Scheie. Rekdal mencetak gol, dan seluruh Norwegia kehilangan akal sehatnya. Momen itu bukan sekadar olahraga, melainkan nation building.

Generasi Emas 90-an Gagal, Generasi Ini Berhasil

Yang jarang dibicarakan adalah pertandingan setelahnya: kekalahan 1-0 dari Italia di babak 16 besar. Generasi emas pertama Norwegia—yang pernah menempati peringkat dua FIFA dan mengalahkan Inggris, Italia, Belanda, dan Brasil—pulang tanpa pernah memenangi satu pun laga gugur di turnamen besar. Baik Piala Dunia 1994 maupun 1998 berakhir dengan penyesalan.

Tiga pemain skuad saat ini memiliki ayah yang bermain di Piala Dunia 1994. Pelatih Ståle Solbakken sendiri bermain 60 menit di laga kekalahan dari Italia itu. "Secara historis, Norwegia tampil bagus di kualifikasi lalu tampil buruk di Piala Dunia," kata Solbakken dalam film dokumenter Netflix. "Sekarang kami harus lihat apakah kami bisa naik level."

Haaland dan Ødegaard, Dua Gaya Kepemimpinan Berbeda

Memiliki superstar sejati jelas membantu. Erling Haaland adalah fenomena global yang sudah memenangi segalanya di level klub; Martin Ødegaard adalah kapten juara Premier League. Keduanya menawarkan kepemimpinan yang berbeda: Ødegaard yang cakap bicara dan penuh kesadaran, Haaland dengan kelaparan dan dorongan kompetitif yang buas. Keduanya menetapkan standar dengan cara masing-masing.

Kemenangan atas Pantai Gading: Lebih dari Sekadar Hasil

Setelah mengalahkan Senegal, Solbakken yang terpukau memukul kamera petugas media internal dan berteriak: "Diam, kawan! Ini kemenangan sepak bola Norwegia terbesar sepanjang masa, dan kalian bisa kutip itu." Usai menang atas Pantai Gading, ia lebih tenang memberi tahu timnya: "Kalian tidak hanya mengubah sejarah sepak bola Norwegia, tapi sejarah Norwegia secara umum. Ini sangat besar. Ini tak akan terulang lagi karena kita akan lolos terus."

Patrick Berg menjadi pahlawan tak terduga. Ia kehilangan tempat di tim sebelum turnamen, lalu memaksa kembali ke starting XI selama fase grup. Performa all-action-nya di laga melawan Pantai Gading membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik. Kini, Norwegia bersiap untuk reuni dengan Brasil—tim yang pernah mereka kalahkan di Marseille 26 tahun lalu. Kali ini, beban sejarah sudah terangkat.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top